Suara merdeka
Di tengah debur ombak sejarah
Suara merdeka menggema tanpa henti
Di langit biru yang tak tertutup awan
Bendera berkibar, melambai penuh arti

Dari tanah yang pernah tertindas
Keringat dan darah bersatu padu
Menjadi saksi perjuangan tak berkesudahan
Kini kita berdiri, tegak tak lagi sendu
Lengking kebebasan membahana
Menyusuri jalan panjang berliku
Kita rayakan tiap hela nafas
Dalam kemerdekaan, kita menemukan makna
Tangan-tangan yang dulunya terluka
Kini menggenggam masa depan
Dengan tekad dan cinta yang membara
Kita ukir sejarah dengan penuh harapan
Dalam tiap detik dan helaan nafas
Kita ingat jasa dan pengorbanan
Kemerdekaan bukan sekadar kata
Tapi jiwa yang terus membara dalam tindakan
Merdeka bukan pemberian
Di bawah langit yang belum bersih
Terdengar teriakan dan jeritan
Mereka yang berjuang di medan
Menentang segala bentuk penindasan
Dari pelosok tanah yang terlupakan
Mereka melangkah dengan tekad tak tergoyahkan
Di tengah hujan peluru dan badai
Semangat mereka tak pernah padam
Dalam kegelapan malam yang pekat
Keringat dan darah menjadi saksi
Para pahlawan bertarung tanpa henti
Mewujudkan mimpi dalam impian yang tak pernah mati
Di jalan berbatu dan penuh duri
Dengan hati yang tulus dan berani
Mereka berjuang untuk hari esok
Untuk kebebasan yang abadi
Kini di hari yang penuh cahaya
Kita merayakan hasil perjuangan
Namun jangan lupakan jejak yang tertinggal
Jejak keberanian, cinta, dan pengorbanan
Kemerdekaan yang kita nikmati hari ini
Adalah hadiah dari perjuangan yang tak pernah mundur
Di setiap detik, mari kita hargai
Dan simpan dalam – dalam
Bahwa merdeka kita dapat sendiri bukan diberi
Merdekamu, kekasih
Seperti kataku waktu itu
Bahwa cinta adalah perjuangan
Memperebutkan kekuasaan
Mempersempit persaingan
Dan mempertahankan kesetiaan
Jika laku yang kujalani berupa batuan terjal
Maka senyummu ialah sampul yang melingkar kuat untukku selalu merasa aman
Bukan jatuh yang kutakutkan, kekasih
Jauh dari itu ada hal mengerikan yang tak pernah aku banyangkan
Sebab, jika aku telah merdeka
Dan pulang membawa rindu – cinta
Tetapi pada pintu yang kuhampiri telah singgah hati lain
Maka merdeka hanya tinggal kata saja
Dalam sendiri
Aku mendongakkan kepala pada langit yang akhir – akhir ini terasa pucat
Ia lemas
Lunglai tak seperti biasanya
Apakah itu kekasih ?
Kau masih baik – baik saja bukan ?
Semua harap dan cemas
Berupa angin dan hujan
Yang terus menghantam perasaan
Akan dirimu yang sangat aku harapkan
Kembang melati kesukaanmu
Kutanam rapi dalam sanubari
Lalu untukmu, larik ini aku tulis
Agar jika hal – hal buruk nanti menghampiri
Cukup tubuh ini saja yang mati
Tapi tidak cintaku padamu, kekasih













