Menu

Mode Gelap
Understanding Gold Belief IRAs: A Complete Information to Investing In Treasured Metals Rolling Over Your 401(k) To Treasured Metals: A Complete Information Understanding IRA Authorised Gold Bars: A Comprehensive Study The Rise of Sugar Daddy Websites In Houston: A Case Research Protected On-line Gold Purchases: A Comprehensive Examine The 5 Best Gold IRA Companies in your Investment Wants

Kolom

Sepakbola dan Segenap Kepentingannya

badge-check


					Olah raga sepak bola dunia. (Foto: Ist/ilustrasi) Perbesar

Olah raga sepak bola dunia. (Foto: Ist/ilustrasi)

Penulis: Atiqurrahman

Bagi sebagian orang, sepakbola dianggap tidak hanya sekedar sebuah permainan fisik belaka. Melainkan lebih dari itu. Sepakbola telah menjelma menjadi sebuah identitas kolektif yang syarat dengan berbagai kepentingan-kepentingan terselebung.

Mulai dari kepentingan politik, ekonomi (industri), agama, budaya hingga ideologi yang diusung dan dijalankan oleh sebuah tim sepakbola.

Oleh karenanya, pernyataan Presiden Jokowi pada beberapa waktu lalu di Istana Negara, bahwa “sepakbola dan politik harus dipisahkan”, bagi saya adalah sebuah ahistoris, sekaligus kemustahilan.

Sebab, setiap tim sepakbola di mana pun berada, selalu berkelindan dengan latar sejarah yang mempengaruhinya. Dengan kata lain, terbentuknya setiap tim sepakbola sudah memiliki tradisi, karakteristik dan pemikirannya masing-masing.

Salah satu contohnya adalah Barcelona. Sebuah tim sepakbola terbaik dunia yang berasal dari tanah Catalonia (Catalan) memiliki latar sejarah panjang dan ideologi yang cukup kuat hingga sekarang ini.

Kita tahu, bahwa narasi sejarah Barcelona adalah sejarah politik perlawanan terhadap rezim fasis Francisco Franko di Spanyol. Kelahirannya tiada lain merupakan wujud dari gerakan nasionalisme, serta upaya perlawanan rakyat Catalonia terhadap kolonial Spanyol yang tengah menindas dan menjajahnya.

Dalam segi pemikiran, Barcelona sedikit-banyak dipengaruhi oleh ideologi Anarkisme. Sebuah ideologi dunia yang mencita-citakan masyarakat yang otonom, bebas, dan menolak segala bentuk otoritas dan hirarkis.

Ideologi Anarkisme ini tumbuh dan berkembang di tanah Catalonia, karena dalam sejarahnya, Catalonia pernah menjadi pusat gerakan para buruh anarko-sindikalis.

Dan, kota Barcelona merupakan saksi sejarah tentang bagaimana gagasan-gagasan anarkisme ini bersemayam, sebelum akhirnya kolonial Spayol dan Jenderal Francisco Franko mencamploknya, tahun 1930-an.

Dengan demikian, wajar saja, jika tim sepakbola Barcelona dijadikan ruang ekspresi politik oleh rakyat Catalonia guna menyuarakan isu-isu kemerdekaannya seperti menginginkan politik referendum dari Spayol.

Juga, para suporter Barcelona secara terang-terangan membentangkan spanduk yang bertuliskan “Catalonia Is Not Spain”. Sebuah gugatan atau protes para suporter Barcelona terhadap rezim Spayol yang sedang mengkoloninya.

******
Selain ideologi, sepakbola juga berkelindan dengan kepentingan agama. Salah satu faktanya adalah persaingan keras antara tim sepakbola Rangers dan Celtic di Liga Skotlandia.

Kedua tim sepakbola itu seperti musuh bebuyutan ketika sedang bertanding. Sebab, keduanya sama-sama mencerminkan suatu kepentingan identitas kolektif keagamaan tertentu. Rangers mewakili agama protestan, sedangkan Celtic merepresentasikan agama katolik.

Perseteruan kedua tim sepakbola itu juga terjadi luar lapangan. Kedua para suporter saling bertindak refresif dan intoleransi, bahkan membunuh satu sama lain, dan hal ini berlangsung hingga saat ini.

Hemat saya, rivalitas antara Rangers dan Celtic sepertinya tetap kekal abadi. Sebab agama telah menjelma menjadi bahan bakar peledak yang terus menyulut kobaran api kebencian dan fanatisme buta.

******

Dalam sisi lainnya, dunia sepakbola, nampaknya masih menyisakan masalah yang cukup pelik, yakni mengenai rasisme atau terjadinya diskriminasi berdasarkan warna kulit dan suku. Hal ini biasanya menimpa para pemain sepakbola.

Ada sederet nama pemain bintang yang menjadi korban praktek rasisme ini. Sebut saja, Dani Alves, Son Heung-min, Kalidou Koulibaly, Marcus Rashford dan Mesut Ozil.

Para pemain bintang ini direndahkan dan dilecehkan karena perbedaan warna kulit dan status kewarganegaraannya. Seperti yang menimpa Dani Alves dan Kalidou Koulibaly, diteriaki mirip “monyet” oleh para suporter.

Sedangkan Mesut Ozil dianggap warga asing (imigran) setelah Jerman mengalami kekalahan pada fase grup piala dunia 2018. Ozil pun menanggapi praktek rasisme itu dengan berkomentar, “Di mata Grindel (ketua asosiasi sepakbola Jerman) dan pendukungnya, saya orang Jerman ketika kami menang, tetapi saya adalah imigran ketika kami kalah”.

******

Alhasil, dunia sepakbola sejatinya bukanlah sesuatu entitas yang netral dan bebas dari segala kepentingan.

Melainkan suatu entitas yang lentur dan fleksibel yang mudah sekali dimasuki tak hanya berbagai kepentingan, tapi juga memungkinkan terjadinya praktek-praktek kekerasan, kebencian, pelecehan dan bahkan pembunuhan.

Sepakbola bisa menjadi sumber perekat persatuan dan keutuhan sebuah bangsa dan negara. Sebagaimana yang terjadi di Pantai Gading, rakyatnya bisa berdamai dan bersatu kembali karena sepakbola, setelah sekian tahun berkonflik antar penduduk asli dan pendatang. Dan, Didier Drogba sebagai aktornya.

Namun, sepak bola juga bisa menjadi biang tragedi kematian. Mengingat, faktanya, sudah ribuan orang meninggal akibat sepakbola. Terbaru, ada 135 orang meninggal di Stadiun, Kanjuruhan, Malang.

Tentu saja, gemerlapnya dunia sepakbola, takkan pernah sebanding dengan satu nyawa manusia.

Facebook Comments Box

Baca Lainnya

Kritik dalam Demokrasi: Antara Hak Politik dan Tuduhan Makar

7 April 2026 - 19:01 WIB

Kritik dalam Demokrasi: Antara Hak Politik dan Tuduhan Makar

Jangan Selalu Norma, Mari Pandang Coming Out LGBTQ+ Dari Kacamata Psikologi

1 Oktober 2025 - 20:55 WIB

Jangan Selalu Norma, Mari Pandang Coming Out LGBTQ+ Dari Kacamata Psikologi

Kisah Kelam Sejarah G30S PKI, Mahasiswa Harus Jadi Garda Terdepan Menjaga Ideologi Pancasila

1 Oktober 2025 - 12:35 WIB

Kisah Kelam Sejarah G30S PKI, Mahasiswa Harus Jadi Garda Terdepan Menjaga Ideologi Pancasila

Sajak Mahendra Utama, Untuk Gus Imin di Hari Lahirmu

24 September 2025 - 12:20 WIB

Sajak Mahendra Utama, Untuk Gus Imin di Hari Lahirmu

Sajak Mahendra Utama, Untuk Affan Kurniawan, Yang Terbaring di Aspal Jakarta

30 Agustus 2025 - 19:38 WIB

Sajak Mahendra Utama, Untuk Affan Kurniawan, Yang Terbaring di Aspal Jakarta
Trending di Kolom
error: