Oleh: Atiqurrahman
Rakyat biasa, tinggal di Desa Mandangin
Satu hari yang lalu, organisasi pendamping pengelolaan dan pengembangan dana CSR HCML (nama salah satu Perusahaan Migas) di desa saya terbentuk dengan anggota-anggota baru. Dan namanya adalah Trunojoyo Amanah Sagara (TAS).
Saya tidak tahu apa dasar filosofis dibalik penamaan itu. Tetapi, yang jelas, TAS ini terbentuk tujuannya untuk melaksanakan segala program yang diusulkan atau diaspirasikan oleh masyarakat desa Mandangin.
Dengan kata lain, apa yang menjadi kebutuhan dan keinginan masyarakat Mandangin, maka TAS-lah yang akan menunaikannya. Sebab, TAS ini seperti “penyambung lidah” antara masyarakat Mandangin dengan pihak perusahaan (HCML), atau pun sebaliknya.
Dan TAS tidak boleh sedikit pun bekerja sesuai kepentingannya sendiri, karena itu akan menyalahi aturan dan tanggungjawabnya. Lagi pula TAS bekerja menggunakan dana publik (CSR) yang dikucurkan oleh perusahaan HCML setiap tahun.
Dan, nominalnya pun tidaklah sedikit. Jika dana CSR itu dibelikan bakso, saya yakin-seyakin-yakinnya seluruh masyarakat Mandangin akan kebagian semua dan kenyang (hehehe).
Oleh karena itu, TAS dalam bekerja wajib terbuka, obyektif dan transparan. Agar masyarakat Mandangin bisa mengetahui dan mengawasi jalannya sebuah program beserta anggarannya.
Sebab, hal itu sangatlah penting. Guna menjaga suatu kepercayaan (trust) dan amanah masyarakat Mandangin kepada organisasi TAS ini, sebagai satu-satunya pengelola dana publik atau CSR.
Maka, TAS perlu membuat semacam platform media, apa pun bentuknya, baik itu Facebook, Youtube, Instagram, atau pun Website.
Sebagai sarana komunikasi sekaligus publikasi terkait program-programnya. Karena, saya tak ingin TAS ini bernasib sama dengan organisasi sebelumnya yang cenderung tertutup dan nir-akuntabilitas.
Harapan Baru.
Dibalik terbentuknya organisasi TAS ini, ada secercah harapan baru yang menyala di hati masyarakat Mandangin. Apa itu?, sebuah harapan perubahan dan kemajuan.
Kita sadar, bahwa masyarakat Mandangin masuk dalam kategori desa tertinggal. Salah satu indikasinya adalah kita masih belum mempunyai Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) sebagai instrumen pendapatan perekonomian desa.
Dan, pembangunan desa Mandangin yang ada sekarang ini sepenuhnya bergantung dari Anggaran Dana Desa (ADD) yang digelontorkan oleh negara.
Untungnya, kita masih mempunyai dana CSR dari dua perusahaan migas; HCML dan Medco Energi. Sehingga sebagian infrastrukur desa Mandangin dapat dibangun melalui dana tersebut.
Selain itu, desa Mandangin masih menyimpan sejumlah ragam persoalan yang terus terserak. Mulai dari soal sampah, kenakalan remaja, kerusakan lingkungan, rendahnya literasi hingga kemiskinan.
Oleh sebab itu, dengan kehadiran organisasi TAS ini diharapkan mampu untuk mengatasi ragam persoalan tersebut. Entah mulai dari sisi yang mana. Yang penting dapat terselesaikan meskipun itu secara bertahap.
Saya yakin, bahwa setiap rancangan atau rumusan program yang dibuat oleh TAS berangkat dari persoalan-persoalan yang ada. Sehingga lahirnya sebuah program benar-benar jadi solusi dan jawaban atas apa yang dihadapi oleh masyarakat Mandangin saat ini.
Di samping itu, kalau pun toh saya boleh berharap lebih pada TAS, saya ingin sekali TAS membuat perpustakaan desa, selain untuk meningkatkan budaya literasi, juga teraksesnya kalangan generasi muda dengan sumber bacaan-bacaan berkualitas.
Dampaknya adalah pola kesadaran dan nalar kritis generasi muda akan tumbuh. Maka sedikit-banyak akan mempengaruhi perubahan dalam struktur kehidupan masyarakat Mandangin.
Dengan demikian, mari kita tunggu saja gebrakan-gebrakan dari TAS ini sambil menyeruput kopi. Dan, kita jangan merasa lelah untuk terus mengkawal, mengawasi bahkan mengkritik organisasi TAS ini.
Agar TAS tetap senantiasa berjalan sesuai dengan jalur khitahnya. Yakni sebagai organisasi penggerak roda perubahan. Bukan menjadi organisasi kaleng-kaleng (hehehe).






