Probolinggo – Sabtu siang yang biasanya tenang di Desa Gading Wetan, Kecamatan Gading, mendadak berubah jadi kepanikan kolektif. Sekitar pukul 13.45 WIB, suara lirih seorang bayi terdengar dari balik tumpukan sampah di Tempat Pembuangan Sampah (TPS) desa setempat. Suara itu tak hanya membelah keheningan, tapi juga mengoyak nurani warga.
Bayi laki-laki itu ditemukan masih hidup, tubuhnya mungil terbungkus jaket biru, bercak darah segar masih melekat di kulitnya, dan ari-ari belum terlepas. Seolah baru saja lahir ke dunia, dan langsung dibuang dari hangatnya rahim ke dinginnya tumpukan sampah.
“Kami mencium bau darah dan mendengar tangisan. Setelah kami dekati, ternyata ada bayi,” tutur seorang warga yang enggan disebutkan namanya, dengan suara bergetar.
Beberapa menit sebelumnya, beberapa saksi melihat sepasang muda-mudi yang mencurigakan di sekitar TPS. Si pria menunggu di luar, sementara si perempuan masuk ke dalam area pembuangan. Tak lama setelah mereka pergi dengan motor Honda Beat putih, bayi itu ditemukan.
Kapolsek Gading, Iptu Ahmad Jamil, membenarkan kejadian tersebut. “Kami sedang mengidentifikasi dan memburu pasangan itu. Dugaan kuat, mereka adalah orang tua si bayi,” katanya.
Bayi segera dilarikan ke Puskesmas Wangkal. Beruntung, nyawanya selamat. Ia kini dititipkan sementara di rumah Kepala Desa Gading Wetan, menunggu keputusan lebih lanjut soal nasibnya.
Di media sosial, gelombang kemarahan dan simpati meluas. Warganet ramai-ramai mengecam aksi pembuangan bayi ini.
Banyak yang menuntut pelaku dihukum seberat-beratnya, namun tak sedikit pula yang bertanya-tanya: apa yang membuat seorang ibu sampai hati membuang darah dagingnya sendiri?
Polisi masih mengusut motif dan identitas pelaku. Masyarakat diminta untuk proaktif melapor jika mengetahui informasi apapun yang bisa membantu penyelidikan.
Di tengah hiruk-pikuk itu, satu hal tetap membekas: di antara bau busuk sampah, ada nyawa kecil yang masih berjuang untuk hidup, seorang bayi yang tak pernah memilih untuk dilahirkan, apalagi dibuang.













