Oleh; Maulana Sholehodin
Di sela sela Acara Kementrian Desa aku sempatkan ziarah ke makam pendiri Jakarta, yaitu Pangeran Ahmad Djakerta.
Dulu Jakarta adalah kota pelabuhan yang berada di wilayah Kerajaan Pajajaran bernama Sunda Kelapa. Setelah ditaklukkan Pasukan Kesultanan Demak yang dipimpin oleh Fatahilah pada 1527, kemudian daerah Sunda Kelapa berganti nama menjadi Jayakarta. Kemudian diberikan kepada wilayah bawahannya yakni Banten yang kemudian berkembang menjadi Kesultanan Banten.
Pada era Kesultanan Banten dipimpin oleh Sultan Maulana Hasanuddin, ia memerintahkan orang terdekatnya untuk memimpin wilayah Pelabuhan Jayakarta. Orang suruhan Sultan Maulana Hasanuddin tersebut bernama Pangeran Sungersa Jayawikarta atau dikenal dengan Pangeran Akhmad Jakerta. Kemudian kekuasaan itu diwariskan pada putranya yaitu Pangeran Jayakarta.
Saat VOC sudah mulai menancapkan kekuasaannya di Nusantara, khususnya di Jayakarta. Konflik dan perang antara Pangeran Jayakarta dengan Belanda (VOC) di Jayakarta mulai terjadi sejak tahun 1610-1619.
Pada awal kedatanganya di Jayakarta, VOC diberikan hak oleh Pangeran Jayakarta, atas tanah di sisi timur muara Sungai Ciliwung. Kemudian daerah yang sepi ini menjelma menjadi pelabuhan yang ramai dikunjungi oleh pedagang-pedagang dari berbagai daerah.
Konflik dengan VOC terjadi karena VOC menerapkan sistem monopoli perdagangan yang sangat merugikan dan menyengsarakan rakyat. Konflik yang berujung perang antara Pangeran Jayakarta dengan VOC, tidak dapat dihindari. Dengan dibantu oleh pasukan dari Banten dan Inggris, Pangeran Jayakarta berhasil mendesak pasukan Belanda, yang mengakibatkan Jenderal Pieterszoon Coen melarikan diri pergi ke Ambon untuk meminta bala bantuan.
Kemudian terjadi konflik antara Banten dengan Inggris yang waktu itu sudah memiliki markas di muara sisi Barat Sungai Ciliwung. Konflik Banten dengan Inggris ini akhirnya timbul perang yang berakhir dengan terusirnya Inggris dari Jayakarta.
Tahun 1619, Jenderal Pieterszoon Coen kembali datang ke Jayakarta, maka kembali terjadi perang sengit antara pasukan Pieterszoon Coen dengan bala bantuan dari Ambon dengan pasukan Pangeran Jayakarta. Pasukan tentara Pieterszoon Coen lebih kuat, kemudian berhasil memporak-porandakan pasukan gabungan pangeran Jayakarta dan Banten. Pasukan Banten melarikan diri ke arah Barat dan Selatan sedangkan pasukan pangeran Jayakarta melarikan diri ke arah Tenggara, yaitu daerah yang kemudian dikenal sebagai daerah Jatinegara Kaum, Jakarta Timur.
Di Jatinegara Kaum, Pangeran Jayakarta memulai kehidupan baru bersama keluarga dan para kerabatnya. Setahun kemudian, Pangeran Jayakarta membangun sebuah masjid yang sekarang bernama Masjid As Salafiah. Selain sebagai tempat ibadah, masjid ini juga digunakan untuk menyusun strategi melawan Belanda.
Namun, beberapa kali Pangeran Jayakarta mencoba melakukan perlawanan terhadap VOC, namun selalu kalah. Pada tahun 1640, Pangeran Jayakarta akhirnya meninggal dimakamkan di komplek pemakaman keluarga di Jalan Jatinegara Kaum Raya no. 49, Pulo Gadung Jakarta Timur.













