Luar Biasa, Tiga Mahasiswa Lulus Tanpa Skripsi

Luar Biasa, Tiga Mahasiswa Lulus Tanpa Skripsi
Tiga mahasiswa Prodi Ilmu Komunikasi UMM yakni Devano Ramadhan Pratama, Ahmad Ali Mahfud, dan Muhammad Sofwan. (Foto; Suryamalang.com)

SUARARAKYATINDO.COM – Tiga mahasiswa Prodi Ilmu Komunikasi UMM yakni Devano Ramadhan Pratama, Ahmad Ali Mahfud, dan Muhammad Sofwan. Pasalnya, Mahasiswa lulus tanpa skripsi.

Tiga Mahasiswa itu, dikarenakan membuat film dokumenter yang mereka garap berhasil tayang di Wathcdoc Documentary, pertengahan Juni 2022 lalu. Maka dari itu mahasiswa lulus tampa skripsi.

Sungguh luar biasa tiga mahasiswa lulus tanpa skripsi itu. Judul film dokumenternya “Menyisir Pesisir Gili Ketapang”.

Devano, anggota kelompok menceritakan bahwa ide film ini muncul sejak awal semester dua lalu. Saat itu mereka diajak untuk membuat film  yang berlokasi di Gili Ketapang.

Sampai disana, mereka melihat permasalahan lingkungan yang memprihatinkan. Mulai dari sampah yang menumpuk, pengerukan pasir, dan pengambilan terumbu karang untuk pembangunan rumah.

“Jika kebiasaan itu berlanjut, tentu akan memberikan dampak buruk bagi pulau ini ke depannya. Apalagi mengingat Gili Ketapang adalah salah satu objek wisata bahari unggulan Jawa Timur,” ujarnya, Jumat (1/7/2022). Sedang anggota lain, Mahfud mengatakan, film “Menyisir Pesisir Gili Ketapang” ini mengangkat isu lingkungan yang sangat kompleks.

Ini memperlihatkan kebiasaan masyarakat yang memberikan efek kurang baik bagi lingkungan.

Di sisi lain, pemerintah menjalankan program pariwisata tapi tidak mempertimbangkan kondisi lingkungan yang ada.

Kondisi pemukiman di pulau kecil itu juga makin padat. Ada 10.000 jiwa yang berdampak pada semakin kurangnya ruang lapang di pulau tersebut.

Belum lagi populasi kambing liar yang ada juga semakin meningkat. Sedang lahan terus berkurang. Akhirnya, sampah menjadi makanan bagi para kambing-kambing.

Karena itu ada beberapa kambing mati di pinggir pantai dan dibiarkan hanyut terbawa arus laut.

Menurut Mahfud, kebiasaan buruk yang sulit dirubah dan tak ada solusi memberi dampak nanti, seperti hilangnya pulau ini.

Dikatakan Sofwan, pariwisata Gili Ketapang mulai dikenal banyak orang sejak tahun 2012 hingga 2013, dan puncaknya pada 2016 hingga 2017.

Tiap harinya, ada ratusan wisatawan yang datang  untuk menikmati pantai dan snorkeling. Hal ini mengubah sebagian besar pekerjaan warga sekitar.

Jika sebelumnya menjadi nelayan, kini beralih ke operator wisatawan hingga penjual aksesoris. Sehingga masyarakat setempat tidak lagi bergantung pada hasil laut.

Tinggalkan Balasan