Menu

Mode Gelap
Enam Pejabat Pemkab Probolinggo Dilantik, Bupati Haris Tekankan Integritas dan Kinerja DPRD Kota Probolinggo Sampaikan Rekomendasi LKPJ 2025, Soroti Dampak Nyata Pembangunan The Rise of Private Plane Flights: A Brand new Era In Air Travel Buying Gold Online within The USA: A Comprehensive Guide Mengolah Data Paito SGP untuk Menemukan Pola yang Lebih Konsisten Natural Hormone Replacement Therapy

Kolom

Sajak-Sajak Mas Dewa, Kata-Ku

badge-check


					Keindahan Hari Minggu yang kesekian kalinya. (Foto: Ist/ilustrasi) Perbesar

Keindahan Hari Minggu yang kesekian kalinya. (Foto: Ist/ilustrasi)

Kata-Ku

Aku akan berusaha memperbaiki kata yang cidera
Mengajaknya kembali pada kalimat yang utuh
Merangkai menjadi sehat kembali
Kembali dari ucapan buruk tentang hidup yang sementara ini
Tentang harapan yang melambung tinggi
Dan rebahan dan malas menjadi usaha utamanya

Jika nantinya kata tak pulih sempurna
Biar kalimat – kalimat lain mengusungnya
Menghantarkan pada tabib terbaik yang pernah ada
Ia bernama penyair kesunyian

Ia memiliki segala obat dari berbagai penyakit
Misal,
Malas dan bodo amat
Keinginan yang melebihi tinggi badannya
Dan tentu tentang rindu yang tak menentu
Semoga saja si penyair mau membantunya
Untuk membangunkan kata yang terlelap

Sudah lama ia tak berbuat apa
Sudah lama ia berlalu dari kenyataan

Apakah kata, ialah dirimu ?

 

Apa kabar minggu kesekian ?

Hari ini adalah minggu kesekian
Dari panjangnya hari yang melelahkan
Di pusingkan pekerjaan
Di porak – porandakan harapan

Jika rinduku tetap api yang menyala
Apakah kau tetap bersedia menjadi mesil yang akan terus berdampingan denganku
Agar baranya tak mati dihadapan kesunyian

Hari ini adalah minggu kesekian
Aku dan dirimu tak saling berjumpa
Kata – kata yang selalu sendiri
Kalimat yang telah menggigil
Serta kecup yang hilang ingatannya
Apakah kau juga merasakannya ?

Senja telah tiba
Aku harus segera berpamitan
Kepada pemilik malam yang panjang
Sebab, jika telah tiba petang
Kau menjelma bayang ditempat yang kau sukai
Di tunggu perapian dapur ibuku

Disudut penantian
Aku terperangah
Membayangkan kau akan datang membawa rindu bulan purnama
Kepada pungguk yang telah lama menanti

Kepayang rindu

Lagu kesukaanmu terus melengking ditelinga
Tidak sengaja kudengar di rumah tetangga
Aku sedikit tersenyum bila mengingatnya
Sebab jika kau sudah sedang asik mendengarkan lagu ini
Maka tidak ada yang lain bisa mengganggumu
Tempe yang kau gorengpun harus menjadi gosong karna lagu itu

Ah, sudah.
Aku tidak mengerti dengan keadaan
Sebentar tersenyum – sebentar terluka

Tentangmu yang tak habis kulumat
Seluruh isi pikir dan senda guraumu
Harus ku sadari
Aku benar – benar tenggelam
Pada peringaimu yang terus menggoda ketenanganku

Perlahan aku mati
Terkubur rinduku sendiri

Facebook Comments Box

Baca Lainnya

Kritik dalam Demokrasi: Antara Hak Politik dan Tuduhan Makar

7 April 2026 - 19:01 WIB

Kritik dalam Demokrasi: Antara Hak Politik dan Tuduhan Makar

Jangan Selalu Norma, Mari Pandang Coming Out LGBTQ+ Dari Kacamata Psikologi

1 Oktober 2025 - 20:55 WIB

Jangan Selalu Norma, Mari Pandang Coming Out LGBTQ+ Dari Kacamata Psikologi

Kisah Kelam Sejarah G30S PKI, Mahasiswa Harus Jadi Garda Terdepan Menjaga Ideologi Pancasila

1 Oktober 2025 - 12:35 WIB

Kisah Kelam Sejarah G30S PKI, Mahasiswa Harus Jadi Garda Terdepan Menjaga Ideologi Pancasila

Sajak Mahendra Utama, Untuk Gus Imin di Hari Lahirmu

24 September 2025 - 12:20 WIB

Sajak Mahendra Utama, Untuk Gus Imin di Hari Lahirmu

Sajak Mahendra Utama, Untuk Affan Kurniawan, Yang Terbaring di Aspal Jakarta

30 Agustus 2025 - 19:38 WIB

Sajak Mahendra Utama, Untuk Affan Kurniawan, Yang Terbaring di Aspal Jakarta
Trending di Kolom
error: