Penulis: Atiqurrahman (Pemuda Desa di Madura)
Jika Anda mendengar nama Mahfud MD, apa yang terlintas di kepalamu?.
Jawabannya tentu banyak sekali, salah satunya adalah sikap kegigihan dan keberaniannya.
Setidaknya, itulah hasil pengamatan saya dalam membaca kiprah dan perjalanan seorang Mahfud MD dalam mengarungi belantara kekuasaan.
Publik pun sudah tahu, bahwa Mahfud MD merupakan sosok yang lengkap dan kaya pengalaman. Ia pernah duduk sebagai Legislatif (DPR), Yudikatif (Mahkamah Konstitusi), dan Eksekutif (Menteri).
Jadi, Mahfud MD sangat faham sekali terkait seluk-beluk ruang-ruang kekuasaan dan kenegaraan, sehingga ia tahu betul bagaimana cara memperbaiki dan menata negara republik Indonesia agar lebih baik, bermartabat, dan maju.
Apalagi, ia adalah seorang Profesor Hukum Tata Negara yang tentunya mampu untuk menguraikan benang kusut sistem politik hukum yang telah menyandera republik ini. Salah satunya adalah korupsi yang telah lama menjadi musuh bersama.
Selain itu, Mahfud MD juga seorang mantan aktivis. Ketika mahasiswa, ia aktif di organisasi ekstra kampus Himpunan Mahasiswa Indonesia (HMI) di UII, Yogyakarta.
Sependek pengetahuan saya, HMI-UII ini menjadi barometer pengetahuan dan gerakan di zamannya. Tokoh-tokoh seperti Mahfud MD, AE Priyono (Alm), dan Hamid Basyaib, semasa mahasiswa telah mewarnai perdebatan intelektual melalui berbagai tulisannya.
Dengan demikian, Mahfud MD memang mempunyai modal dan mentalitas yang cukup tangguh, jujur dan berani. Tak hanya karena ia berasal dari etnik Madura, tapi ia berlaku adil sejak dalam pemikiran. Nilai-nilai seperti keadilan, kemanusian dan kesetaraan telah menjadi prinsip dalam hidupnya.
Dan beberapa bukti keberanian Mahfud MD ialah; pertama, ia tanpa ada rasa takut membongkar kasus Tindakan Pidana Pencucian Uang (TPPU) senilai 349 triliun di Kementrian Keuangan.
Ia bersuara lantang dalam menanggapi berbagai interupsi dan perdebatan yang dilayangkan oleh para anggota DPR Komisi III. Momentum Rapat Dengar Pendapat (RDP) itu menjadi tontonan menarik bagi publik, serta publik dapat memahami bagaimana sesungguhnya karakter asli seorang Mahfud MD. Yakni konsistensi dan tanpa kompromi.
Kedua, Mahfud MD, dalam suatu ceramahnya, mengatakan secara jelas dan terbuka bahwa kontestasi pemilihan umum yang berlangsung di Indonesia, mayoritas dibiayai oleh para cukong dan oligarki.
Artinya, lahirnya para pemimpin-pemimpin di negara ini hampir dipastikan hasil dari sebuah “kongkalikong”. Akibatnya, kualitas demokratisasi kita jadi semu, bahkan nampak absurd. Akhirnya sistem kepemiluan kita tak lebih hanyalah sarana reproduksi untuk menghasilkan para “penggarong” uang negara.
Mahfud MD dan Bursa Cawapres.
Nama Mahfud MD kembali muncul dalam bursa politik sebagai calon wakil presiden pada kontestasi pemilihan presiden tahun 2024 mendatang.
Dalam berbagai survei, elektabilitas Mahfud MD berada dikisaran 8%. Artinya, Mahfud MD memiliki cukup peluang untuk dijadikan calon wakil presiden, baik oleh Ganjar Pranowo, Anis Baswedan atau pun Prabowo Subianto yang selama ini dianggap sebagai calon presiden.
Sebab, Mahfud MD merepresentasikan semua lapisan masyarakat. Ia bisa diterima dan berdiri di atas semua golongan tanpa melihat identitas apa pun.
Sebagai sahabat dekat Gus Dur, karakter Mahfud MD sedikit-banyak dipengaruhi oleh Gus Dur. Karenanya nilai-nilai pluralisme, keadilan, dan persatuan pasti melekat dalam diri seorang Mahfud MD.
Saya yakin, siapa pun calon presiden yang meminang Mahfud MD, pasti memiliki “Coattail Effect” terhadap kalkulasi politik elektoralnya. Karena Mahfud merupakan cerminan seorang religius, sekaligus nasionalis. Ia tumbuh dilingkungan keagamaan tradisional (NU) yang kuat, namun juga konsisten dalam mencintai bangsa dan negaranya.
Bagi saya, tindakan pembubaran FPI adalah salah bentuk kecintaannya terhadap bangsa dan negara. Agar negara Indonesia tetap aman, damai dan harmonis dari praktek-praktek kekerasan dan intoleransi.
Pengalaman Politik Pahit Mahfud MD.
Kita masih ingat, pada pemilihan presiden tahun 2019, Mahfud MD hampir menjadi calon wakil presiden mendampingi Jokowi, tapi kemudian gagal.
Padahal, Mahfud MD sudah diperintahkan untuk bersiap diri dan diminta oleh Presiden Jokowi untuk mengukur Jas di Istana Negara.
Tentu, peristiwa itu menjadi pengalaman politik pahit dan menyakitkan bagi Mahfud MD. Sebagaimana pengakuannya di kanal Youtube Helmy Yahya, bahwa ia sangat kecewa atas peristiwa itu.
Namun kekecewaan Mahfud MD segera sirna setelah mendapatkan penjelasan langsung dari Presiden Jokowi mengenai gagalnya menjadi calon wakil presiden.
Ternyata hal itu disebabkan oleh ketidaksetujuan tiga ketua umum partai politik pendukung atau koalisi Presiden Jokowi.
Seperti yang diungkapkan secara jelas oleh Romahurmuziy (Gus Romi) di suatu Kanal Youtube, bahwa gagalnya Mahfud MD menjadi calon wakil presiden tahun 2019 karena ditolak oleh Surya Paloh, Airlangga Hartanto dan Muhaimin Iskandar dengan alasan yang cukup beragam.
Meski demikian, saya merasa tidak heran apa yang menimpa Mahfud MD. Sebab, konfigurasi politik di Indonesia memang dikuasai dan dikendalikan oleh para elit partai politik.
Para elit partai politik inilah menjadi duri dalam tubuh demokrasi. Karena para elit partai politik bertindak sesuai kepentingan pribadi dan kelompoknya, bukan berdasarkan kepentingan publik secara luas.
Alhasil, sebagai orang Madura, saya masih tetap berharap dan mendukung sepenuh hati untuk Mahfud MD menjadi calon wakil presiden, terlepas dari siapa pun pasangan calon presidennya.
Sebab, di satu sisi, ini menyangkut nasib dan masa depan negara Indonesia, terutama soal kepastian politik hukum dan demokrasi yang kian mundur.
Di sisi lainnya, akan menjadi suatu kebanggaan dan kehormatan tersendiri bagi masyarakat Madura, bahwa salah satu Putera Madura bisa menjadi orang kedua di republik ini.













