Oleh: Atiqurrahman
(Pemuda Desa)
Dalam konstelasi politik nasional, siapa yang tidak mengenal sosok Muhaimin Iskandar. Seorang politisi muda, cakap, energik dan penuh dengan gagasan-gagasan segar.
Saya sendiri pertama kali mengenal sosok Cak Imin (panggilan akrabnya) karena dua hal: pertama, karena ia merupakan mantan Ketua Umum PB PMII tahun 1994, dan saya ketepatan adalah seorang kader yang pernah berproses di organisasi PMII Cabang Yogyakarta.
Kedua, ketika jadi mahasiswa saya pernah membaca beberapa karya buku Cak Imin. Terutama soal penafsiran-penafsiran beliau tentang pemikiran dan kiprah KH. Abdurrahman Wahid alias Gus Dur. Salah satu bukunya ialah “Melanjutkan Pemikiran dan Pejuangan Gus Dur.
Jadi, penilaian saya, Cak Imin merupakan politisi yang berintelektual dengan pengetahuan yang sangat matang. Ia hadir dalam panggung politik nasional tidak hanya mengejar kekuasaan semata, tetapi juga membawa semangat dan pemikiran tentang masa depan negara Indonesia.
Beberapa waktu lalu, ketika Cak Imin meluncurkan buku terbarunya berjudul “Visioning Indonesia: Arah Kebijakan dan Peta Jalan Kesejahteraan”. Ada sebuah ungkapan sangat menarik dalam sambutannya.
Menurutnya, “Republik Indonesia dalam menuju perjalanan masa depan harus dipandu dengan gagasan-gagasan yang besar”.
Ungkapan ini tentu menunjukkan rasa yang optimistik bagi rakyat Indonesia, bahwa perubahan dan perbaikan Indonesia ke depan wajib didasari oleh segenap pemikiran-pemikiran yang cemerlang.
Ini menandakan bahwa Cak Imin bukanlah politisi yang pesimistik dan penuh keraguan terhadap nasib Indonesia. Melainkan, seorang politisi yang membangkitkan harapan dan sikap percaya diri bagi rakyat Indonesia.
Bahwa suatu saat nanti Indonesia akan terwujud sebuah tatanan yang adil, makmur dan sejahtera. Sebagaimana cita-citanya yang tertuang dalam beragam karya bukunya.
Dan, ungkapan atau pernyataan Cak Imin itu bukanlah sebuah utopia belaka. Akan tetapi pernah Ia lakukan ketika menjabat sebagai Ketua Umum PB PMII, tahun 1994.
Di mana pada waktu itu, narasi dan gerakan PMII telah dipandu oleh kerangka “Paradigma Kritis”. Dengan kata lain, kader-kader PMII dituntut untuk tetap bernalar kritis dan menjadi oposisi terhadap kekuasaan otoriter rezim Orde Baru, serta konsisten dalam membela hak-hak rakyat yang terpinggirkan dan tertindas.
Cak Imin dan Seni Politiknya.
Saya sepakat apa yang diungkapkan oleh Najwa Syihab, bahwa Cak Imin itu ibarat “Jendral Kancil”. Ia politisi yang gesit dan lincah dalam melakukan menuver politiknya.
Menuver politik Cak Imin bisa diartikan sebagai upaya tindakan-tindakan politik guna merealisasikan gagasan dan kepentingannya.
Cak Imin mencoba menjalin kerja sama dengan siapa pun asalkan satu gagasan dan kepentingan demi suatu perubahan dan perbaikan Indonesia ke depan.
Kita tahu, bahwa PKB selalu saja masuk dalam lingkaran rezim kekuasaan, setidaknya sejak reformasi bergulir. Selain bisa mengantarkan Gus Dur sebagai presiden, PKB juga mampu menempatkan kader-kadernya sebagai menteri dalam setiap rezim politik, mulai dari SBY hingga Jokowi sekarang ini.
Oleh karena itu, Cak Imin pernah berkelakar bahwa siapa pun calon presiden yang didukung oleh PKB pasti keluar sebagai kampiun.
Dan keberhasilan PKB yang selalu menempel ke ruang-ruang kekuasaan ini menunjukan bahwa Cak Imin sangatlah cerdik dan piawai dalam menjalankan seni politiknya. Ia, sebagai insan politik, mampu mengkombinasikan antara idealisme dan pragmatisme sekaligus.
Kini, sebagai politisi yang masih relatif muda, Cak Imin mencoba mem-“branding” dirinya sebagai calon wakil presiden sejak tahun 2019.
Langkah politik ini memang belum nampak berhasil, tapi itu harus dilakukan demi masa depan karir politiknya. Sebab, Indonesia membutuhkan politisi muda yang mempunyai gagasan yang cemerlang.
Pada konstelasi pemilihan presiden 2024 mendatang, Cak Imin, sekali lagi menunjukan seni politiknya. Ia telah berkeliling dan menemui berbagai ketua umum partai politik guna menyatukan gagasan dan kepentingannya.
Bahkan ia sudah membangun semacam “kesepakat politik” bersama Prabowo Subianto, ketua umum partai Gerindra. Dan kesepakatan politik ini ia namai sebagai “Koalisi Kebangkitan Indonesia Raya (KKIR)”.
Dengan demikian, Cak Imin adalah politisi muda yang membawa segudang pemikiran dan gagasan untuk Indonesia ke depan. Karena ia politisi yang berintelektual, sekaligus seorang aktivis dan penulis (jurnalis).
Bagi saya, karya-karya buku Cak Imin, tiada lain merupakan sebuah “Manifesto Pemikiran Politiknya” dalam menganalisis berbagai persoalan yang sedang terjadi di republik ini.













