Oleh; Analistunanetra
Hukum kausalitas tetap berlaku pada semua realitas, suatu akibat yang menuai perselisihan-penyebabnya apa dan siapa, ada yang mengatakan ini lebih spesifik terjadi dalam diri individu namun kritikan tak henti mengarah kepada pendapat itu, karena dinilai menyalahkan korban
Aliran Ameliorism mempunyai persepsi bahwa evolusi lebih dominan terjadi akibat faktor individu, akan tetapi kalau hal itu di kembalikan terhadap fakta di lapangan banyak sikap atau tindakan sosial tidak serta merta atas dorongan dari per individu, diantaranya adalah tindakan acuh tak acuh terhadap pemerintah dalam memenuhi haknya (bukan karena tidak terpenuhi harapan normatifnya)
Setelah mencoba mengamati di desa saya ketika ngobrol dengan salah satu penduduk sekitar, responnya tidak begitu perduli terhadap pemerintah, kesimpulan yang saya peroleh adalah, tentang doktrinisasi turun temurun yang diwariskan dari masa ke masa perihal ketercelaan hidup yang bergantung kepada seseorang (kemandirian) apalagi terhadap pemerintah yang justru mereka nilai kotor.
Mungkin doktrin ini berdampak disfungsi pemerintah dalam menjalankan tugasnya, ketika pemerintahan di pemimpin oleh orang yang sewenang-wenang, dzalim dan khianat justru memudahkan untuk melakukan kecurangan yang dapat merugikan
Tetapi ada sisi positifnya yang dapat kita petik, tentang liberasi yang datang dari individu, bahwasanya kegagalan adalah sesuatu yang normatif, hal itu tidak lagi di tujukan terhadap pemerintah melainkan pada diri masing-masing yang tidak memiliki spirit progresifitas dan kreativitas, sehingga menjadi mindset yang bersifat ambisi individu sehingga banyak dari masyarakat berkompetisi dalam mewujudkan kesuksesan dengan cara merantau keluar kota bahkan luar pulau
Hal ini bukan faktor geografis kurang mensupport kebutuhan mereka, melainkan paradigma yang terbentuk dari waktu ke waktu dimana individu banyak punya semangat merantau karena terkesan lebih cepat mendapatkan apa yang mereka inginkan
Seiring berjalannya waktu semakin banyak pula perpindahan penduduk dari desa ke kota bahkan mayoritas diantaranya tamatan pendidikan sekolah dasar, tentu evolusi sosial yang terjadi dari aspek solidaritas banyak mengalami pergeseran, dari solidaritas mekanik (Solidaritas mekanik adalah suatu hal yang bergantung pada kesamaan sifat, karakter, kepercayaan, dan norma yang dianut masyarakat.”)ke solidaritas organik terkadang membentuk pribadi individu sehingga sampai ke tempat tinggalnya
Rupanya penduduk di desa saya lebih dulu paham pada transformasi kesadaran, sehingga mempunyai inisiatif menciptakan komunitas kepemudaan, berorientasi terhadap pendidikan melalui pendekatan sejarah, sehingga budaya pedesaan tetap melekat dalam diri mereka meskipun di hadapkan dengan arus budaya perkotaan






