Scroll untuk baca artikel
Example floating
Example floating
Kolom

Gagal Paham Kasih Sayang

×

Gagal Paham Kasih Sayang

Sebarkan artikel ini
Gagal Paham Kasih Sayang
Faisin selaku Tenaga Pendidik di MI TAJUL ULUM P. Mandangin. (Foto: SRI)

Oleh: Faisin, S. Pd.I

(Tenaga Pendidik di MI TAJUL ULUM P. Mandangin)

Advertisement
Scroll kebawah untuk membaca

“Aku adalah hamba sahaya bagi guru yang mengajariku ilmu. Andai guruku memintaku seribu dinar (koin emas) untuk satu huruf saja, maka pasti aku membayarnya.” (Imam Ali, karramallahu wajhah)

Dalam pandangan agama, khususnya agama Islam, mendidik anak merupakan kewajiban mutlak orang tua. Kewajiban ini terus berjalan dan tidak bisa gugur karena sebab lain. Kecuali, setelah anak-anak menjadi dewasa dan kewajiban tersebut telah dilimpahkan ke pihak lain lantaran adanya pertanggungjawaban lain yang mengikatnya, semisal karena adanya ikatan pernikahan. Perspektif ini berdasar pada sebuah hadits Nabi yang menyatakan, bahwa setelah anak dilahirkan maka orang tua berkewajiban memberinya ia nama yang baik hingga pada pendidikan yang baik.

Baca Juga:  Puisi JQ Soenardie Politik, Serigala Berbulu Domba

Namun bisa gugur, karena orang tua memiliki keterbatasan kemampuan, sebab adanya penyakit yang menderanya dan sulit untuk kembali pulih (permanen) yang menjadi penghalang akan kewajiban itu terlaksana, atau karena ia terbatas pengetahuannya sehingga ia tidak punya kemampuan untuk memberi anak-anaknya asupan ilmu dan pengetahuan. Sehingga dalam kasus ini, ia dibebani kewajiban lain, yaitu mencarikan anak-anaknya seorang guru guna mengajarkan dan mendidiknya yang kemudian memasrahkan penuh kepada guru tersebut.

Example 120x600