Kolom  

Mendedah Visi dan Misi Anies-Cak Imin

Mendedah Visi dan Misi Anies-Cak Imin
Anies-Muhaimin kompak saat duduk bareng dalam menyelesaikan tugasnya. (Foto: Ig @cakiminow)

Oleh: Atiqurrahman

Saya sudah membaca visi dan misinya Anies-Cak Imin. Saya kira sangat menarik dan ciamik. Karena memuat sejumlah pemikiran, gagasan dan harapan untuk menuju perubahan Indonesia lebih maju, adil dan makmur.

Visi dan misi Anies-Cak Imin ini terdiri dari 148 halaman, serta lengkap dengan rincian program kerjanya jika kelak terpilih menjadi pemimpin negeri ini.

Setidaknya, bagi saya, Anies-Cak Imin dalam meramu visi-misinya berangkat dari dua kerangka perspektif atau sudut pandang.

Pertama, perspektif kebangsaan atau nasionalisme. Kedua, perspektif kritis, atau sebuah koreksi atas kondisi realitas publik hari ini yang makin memilukan dan menggetirkan.

Dalam perspektif kebangsaan, Anies-Cak Imin menjelaskan cukup panjang terkait rangkaian proses sejarah pembentukan Negara Republik Indonesia. Mulai dari satu bangsa, satu negara, satu NKRI, dan satu tanah air.

Misalnya, Indonesia itu sudah satu bangsa sejak terjadinya Sumpah Pemuda 1928. Satu negara pada peristiwa Proklamasi 1945, dan berbentuk Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) 1949, atas hasil diplomasi Meja Bundar. Terakhir, Indonesia sudah berdaulat satu tanah air pada 1982.

Akan tetapi, dibalik rangkaian panjang narasi kebangsaan itu. Menurut Anies-Cak Imin ada satu persoalan besar yang sedang menimpa bangsa Indonesia, yakni tidak terwujudnya satu kemakmuran bagi seluruh rakyat Indonesia.

Oleh karena itu, dalam hal ini, Anies-Cak Imin menggunakan perspektif kritis dalam menguraikan benang kusut persoalan tersebut. Terutama pada rezim sekarang ini yang gagal dalam mewujudkan kesejahteraan dan kemakmuran hidup rakyatnya.

Kegagalan itu telah disebabkan dua faktor, yaitu kemiskinan dan ketimpangan ekonomi. Sebanyak 68%, atau 187 juta orang Indonesia tidak mampu membeli makanan dengan gizi yang seimbang.

Sedangkan angka kesenjangan dan ketimpangan ekonomi antara orang kaya dengan orang miskin sangat lebar sekali. Bayangkan, 10% orang kaya di Indonesia telah menikmati sekaligus menguasai 67℅ sumber kekayaan alam nasional.

Dengan realitas demikian, Anies-Cak Imin ingin menyelesaikan persoalan tersebut dengan menghadirkan rasa kesetaraan dan keadilan bagi seluruh rakyat Indonesia.

Dan ada delapan misi atau jalan strategi perubahan yang Anies-Cak Imin tempuh untuk menuju perubahan Indonesia.

Mulai dari tersedianya bahan pokok, upaya pengentasan kemiskinan, keadilan ekologis, membangun desa dan kota berkeadilan, mewujudkan SDM yang cerdas dan sehat, mewujudkan kesejahteraan keluarga, memperkuat sistem pertahanan dan keamanan negara, dan terakhir, memulihkan kualitas demokrasi, hukum dan HAM.

Selain itu, Anies-Cak Imin juga mencanangkan delapan agenda khusus sebagai sayap kemajuan yang berdasarkan pada pembangunan potensi kawasan atau wilayah yang ada di Indonesia.

Seperti Sumatera, Jawa, Bali dan Nusa tenggara, Kalimantan, Sulawesi, Maluku, Papua, serta Daerah Pedalaman, Pesisir dan Kepulauan.

Dalam bayangan Anies-Cak Imin, Sumatera mau dijadikan sebagai jembatan komunitas global. Jawa sebagai fondasi perekenomian, dan Kalimantan sebagai tonggak ekonomi hijau. Bali dan Nusa Tenggara sebagai gerbang pariwisata, gapura keberagaman dan pagar kebudayaan.

Maluku dan Sulawesi sebagai tonggak kebangkitan maritim Indonesia timur. Papua dan Kawasan Pedalaman, Pesisir dan Kepulauan menjadi pilar utama pembangunan dan pemerataan.

Alhasil, visi dan misi Anies-Cak Imin sangat komprehensif dan detail. Semacam sebuah “Manifesto” mengenai arah gerakan Indonesia ke depan. Sehingga cita-cita perubahan dan satu kemakmuran bukan sekadar impian belaka.

Tinggalkan Balasan