Kolom  

Puisi Mas Dewa, “Kisah dan Do’a Ibu”

Puisi Mas Dewa, "Kisah dan Do'a Ibu"
Ilustrasi seorang ibu gendong sang buah hati. (Foto: Ilustrasi)

Oleh: Mas Dewa

Kisah dan Do’a Ibu

Aku tak elaknya hanya selembar kertas kosong yang hanyut dibawa arus terjal

Jika tanpanya,
Maka aku tinggal serpihan.

Cukup mendung pagi ini
Embun menyelimuti amarah kaum rebahan
Yang selalu di sibukkan oleh keadaan
Di porak – porandakan oleh cemoohan

Ia terus saja mencari jalan
Menuju tujuan yang hendak dituju
Meski tak pasti
Langkah kecil mendampingi keyakinannya

Entah sudah sampai mana
Jalanan tak memberi keterangan yang jelas
Perihal perjalanan ini
Sudah hampir sampai atau masih jauh lagi
Apa peduli ?

Waktu mengambil alih jarak yang panjang
Membentangkan masa
Dari masih orok hingga mengenal patah hati
Semuanya selesai secara tiba – tiba
Tinggal rasa dan harap yang membekas
Belum menemukan kerelaan

Tapi itu hanya butiran keluh – kesahku, Ibu
Jika dibanding dengan kasihmu yang seperti samudra
Jika diukur dengan sayangmu yang membentang luas

Dan bersama uraian kalimat ini aku rangkai
Air mata bercucuran di pipi mungil anakmu ini
Mengingat dan mengenang
Sedih yang terpernah ditampakkan
Capek yang selalu berganti keriangan
Tutur sapa yang terus memberi ketenangan
Sangat halus menyimpan rahasia keresahanmu, Ibu.
Tapi aku tau
Dan itu menjadi jimat dalam perjalanan anakmu ini
Bahwa, tidak ada yang benar – benar peduli terhadap kita selain diri kita sendiri yang mengasihi jasad secara utuh dan rohani secara sempurna

Meski sampai saat ini
Anakmu hanya bisa bercerita tentang keresahannya
Yakinkan setiap langkahnya
Bahwa doamu ialah penerang di setiap jalan yang hitam dan gelap

Dan Ibu
Disepanjang jalan ini
Aku berharap
Ibadah dan nafas menjadi detak jantung yang tak akan putus sampai aku benar – benar menjadi kabul di setiap doa malamu, ibu.

Rantau,
22/12/22

Tinggalkan Balasan