Kolom  

Puisi Tan Hamzah, “Kota Hujan”

Puisi Tan Hamzah, "Kota Hujan"
Ilustrasi hujan yang diguyur per kotaan. (Foto; Ilustrasi)

Oleh; Tan Hamzah 

Kota Hujan
Kotaku penuh hujan dan bunga-bunga
Menjadi sunyi di sajadah sore
Petang jadi pagi, dingin menyelimuti kaki
Mengantarkan kita pada titik pulas bayang-bayang
Kotaku hujan
Gedung tinggi mandi
Sehabis bermain sepanjang musim gugur
Dan jalan macet, becek, kotor trotoar
Tiada rumah bagi binatang-binatang melata
Bagi mereka yang tak punya rumah untuk pulang, rebah di bahu jalan
Menatap takdir yang gersang di musim hujan
Dan gadisku tertimpa hujan deras
Di jalan menuju bibir kota
Yang ramai oleh kata-kata
Ya gadisku, kotaku, hujanku
Basah semua.

Jam 2
Puisi jam 2 selalu menyimpan percakapan singkat
Dialog atau monolog, entahlah
Aku berbicara pada diriku
Tentang hal-hal yang tidak selesai
Dan cerita yang akan dimulai
Pada minggu pagi

Dua minggu yang lalu kau mengirim pesan padaku
Setelah satu tahun tidak bertukar kabar

Bertahun-tahun yang lalu
Kau selalu terbangun, susah tidur
Jam 2 pagi kau mengirim pesan padaku

Waktu yang sunyi itu tetap hening sampai saat ini

Mingu malam
Petikan gitar seorang kawan
Membawa kita mengingat Chopin dan Beethoven
Yang rumit
Kopi, tembakau di meja
Lalu kita bicara Amor fati Nietzche
Menebak-nebak di umur berapa kita akan mati
Menjemput takdir, menemui kepastian
Kau yang ragu,
Pada kemungkinan diriku
Di minggu malam
Akhir bulan
Ujung tahun
Aku ingin sekali berkata

Tinggalkan Balasan