SUARARAKYATINDO.COM – Probolinggo, Pelaksanaan Gebyar Insan Qur’ani (GIQ) 2025 di Desa Jatiurip, Kecamatan Krejengan, Kabupaten Probolinggo, tidak hanya sukses dari sisi teknis pelaksanaan.
Lebih dari itu, kegiatan ini menyimpan kisah inspiratif tentang kolaborasi sosial antara pengasuh TPQ Ihyaul Islam dan para tukang sayur lokal yang bersatu untuk menyukseskan kegiatan keagamaan yang bertujuan mencetak generasi Qur’ani.
Lomba yang berlangsung pada Sabtu (28/6/2025) ini merupakan ajang Musabaqah Hifdzil Qur’an (MHQ) 5 Juz yang diikuti oleh peserta dari berbagai lembaga di wilayah se-Kabupaten Probolinggo.
Uniknya, kegiatan ini turut ditopang oleh kontribusi dari komunitas pedagang sayur keliling yang tak hanya mendukung secara moral, tetapi juga secara ekonomi.

Pengasuh TPQ Ihyaul Islam, Heppy yang juga dikenal sebagai pedagang sayur, menyampaikan bahwa dukungan tersebut lahir dari hubungan emosional dan sosial yang telah terbangun lama antara TPQ dan para pelanggan.
“Kami itu punya banyak pelanggan dari kalangan tukang sayur. Dari proses jual beli itu, kan ada nilai ekonomi ada untung. Nah, dari keuntungan itu, kami sisihkan sedikit demi sedikit untuk keberlangsungan acara ini,” ujarnya.
Menurutnya, hubungan antara TPQ dan komunitas pedagang sudah bukan sekadar transaksi ekonomi biasa.
“Bukan hanya bangunan ekonomi, tapi ini sudah jadi bangunan emosi. Ada rasa percaya, ada rasa kebersamaan. Maka dari hasil jualan malam hari, kami kumpulkan perlahan, dan akhirnya bisa untuk mendukung acara ini,” ungkapnya.
Tidak hanya untuk acara GIQ ini, Heppy menjelaskan bahwa sebagian dana juga digunakan untuk mendukung proses belajar mengajar anak-anak TPQ sepanjang tahun.
“Sudah berjalan sekitar empat tahun. Jadi ini bukan hal baru. Para tukang sayur bukan sekadar pembeli, tapi mereka adalah mitra perjuangan. Alhamdulillah, dari mereka jugalah kita bisa bertahan dan terus berkegiatan,” ujarnya.
Ketua Panitia GIQ, Moch. Yunus, turut memberikan apresiasi atas keterlibatan aktif para tukang sayur dalam penyelenggaraan lomba.
“Semangat Al-Qur’an tumbuh dari masyarakat. Tukang sayur, guru ngaji, pemuda, semua bersatu. Inilah wajah Islam yang hidup di tengah masyarakat: guyub, ikhlas, dan bertujuan luhur,” ucap Yunus.
Acara ini secara resmi dibuka oleh Kepala Desa Jatiurip, M. Hendrik, yang dalam sambutannya menyampaikan komitmen Pemerintah Desa terhadap semua bentuk kegiatan pendidikan dan keagamaan.

“Kami sebagai Pemerintah Desa akan selalu mendukung, bukan hanya kegiatan di TPQ ini, tapi di semua lembaga. Kita harus bisa berkolaborasi agar semua kegiatan berjalan aman, lancar, dan membawa manfaat,” terangnya.
Sebagau Kepala Desa Jatiurip, Hendrik berharap melalui kegiatan seperti ini, lahir generasi yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga kuat secara spiritual.
“Harapan kami, anak-anak penghafal Qur’an di Jatiurip ini bisa mengangkat nama desa kita, tidak hanya di kabupaten, tapi kalau bisa sampai tingkat nasional dan internasional,: ucapnya penuh harap.
Lomba GIQ 2025 mencakup cabang hafalan 5 Juz dan tartil Al-Qur’an, diikuti peserta dari tingkat SMP dan MTs se-Kabupaten Probolinggo.
Kegiatan ini tidak hanya memperkuat nilai-nilai keagamaan, tetapi juga menumbuhkan solidaritas warga lintas profesi dalam membangun desa berbasis nilai Qur’ani.













