Oleh: Mhmd Alfaraby
Mahasiswa Hukum Tata Negara, UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta
Belakangan, setidaknya beberapa dekade terakhir, dunia telah mengalami perubahan cukup signifikan bagi tatanan kehidupan manusia, khususnya dampak dari kemajuan teknologi – di mana era ini bisa dikatakan sebagai “era disrupsi teknologi revolusioner”. Perubahan ini telah membawa impact yang cukup besar hampir pada setiap lini kehidupan manusia: mulai dari struktur bekerja, komunikasi, belanja, hingga cara mendapatkan informasi.
Di sini, penulis akan melakukan eksplorasi terhadap era revolusi teknologi, terkait dampak positif dan negatifnya, serta bagaimana kita menghadapi era ini, apakah sebagai peluang atau ancaman?
Era Baru Teknologi
Sekurang-kurangnya, revolusi teknologi dimulai sekitar pertengahan abad ke-18 di Inggris, atau dikenal sebagai Era Revolusi Industri, yang ditandai dengan pesatnya perkembangan teknologi dan produksi. Di antara inovasi teknologi yang mendasarinya adalah terbentuknya mesin uap, industri tekstil dan pabrik, pertambangan dan metalurgi, transportasi, dan alat komunikasi.
Periode selanjutnya, Revolusi Industri tidak hanya stag di situ, ia kemudian mengalami sebuah inovasi baru, yang kita kenal hari ini dengan “Revolusi Industri 4.0” atau “Cyber Physical Sistem”. Di mana, konsep implementasinya berpusat pada “otomatisasi”. Dengan kata lain, teknologi digunakan sebagai intrumen support sistem untuk “efektivitas” dan “efisiensi” guna membantu pekerjaan industri secara umum.
Setidaknya ada lima pilar teknologi yang digunakan dalam Revolusi Industri 4.0: 1) Internet of Things (IoT), yaitu sistem yang menggunakan perangkat komputasi, mekanis, dan mesin digital dalam satu keterhubungan (interrelated connection). 2) Big Data, yaitu istilah volume besar data yang digunakan untuk pengambilan keputusan maupun strategi bisnis. 3) Artificial Intelligence (AI), yaitu mesin teknologi yang di-setting memiliki kecerdasan buatan layaknya manusia. 4) Cloud Computing, yaitu teknologi yang menjadikan internet sebagai pusat pengelolaan data dan aplikasi. 5) Addictive Manufacturing, yaitu industri manufaktur dengan memanfaatkan mesin pencetak 3D atau biasa dikenal dengan “3D Printing” (Baca: website Kominfo).
Revolusi teknologi sampai detik ini, masih terus-menerus di-upgrade dan dikembangkan. Seperti belakangan yang sedang ramai diperbincangkan, yaitu mengenai Chat GPT atau Open AI; sebuah teknologi baru yang didesain untuk memahami bahasa manusia, merespon pertanyaan, memberikan informasi, dan dapat berinteraksi dengan User (pengguna).
Tentu, tidak bisa dipungkiri, bahwa eksistensi teknologi dari masa ke masa telah memberi pengaruh yang cukup besar bagi kehidupan manusia, utamanya dalam memberikan “kemudahan” dan “efisiensi” dalam segala sektor, baik itu pada sektor ekonomi, sosial, politik, dan seterusnya.
Konsekuensi Logis
Meski kemajuan teknologi berkembang secara pesat, serta memberikan dampak positif bagi tatanan kehidupan manusia, namun di sisi lain perlu kiranya memperhatikan “dampak negatif” dari pengaruh teknologi sebagai sebuah konsekuensi logis.
Setidaknya ada beberapa konsekuensi yang ingin penulis asumsikan sebagai sebuah hipotesis. Pertama, Minimnya Lapangan Pekerjaan. Di mana, saat ini perkembangan teknologi modern telah menerapkan otomatisasi dan robotisasi secara struktural, menggantikan pekerjaan manusia dalam banyak sektor. Akibatnya, industri justru tidak lagi membutuhkan tenaga manusia sebagai pekerja.
Kedua, Kesenjangan Sosial dan Ekonomi. Di mana, kesenjangan tersebut dapat terjadi antara pekerja yang punya keterampilan berbasis teknologi modern, dengan pekerja yang tidak memiliki akses atau pelatihan untuk mengembangkan keterampilan tersebut.
Ketiga, Privasi dan Keamanan Data. Impact kemajuan teknologi digital juga membawa resiko terhadap privasi dan keamanan data. Mengingat sudah banyak kasus yang terjadi terkait peretasan dan pembobolan data oleh hacker, baik itu di tingkat nasional maupun internasional. Oleh sebab itu, ancaman data privasi setiap individu maupun pada skala yang lebih besar seperti negara, badan-badan usaha, dan sebagainya patut untuk diantisipasi.
Keempat, Ketergantungan Teknologi. Seperti yang kita tahu, saat ini teknologi sudah menjadi gaya hidup baru bagi masyarakat modern. Media sosial, seperti Whatsapp, Instagram, Twitter, Facebook, Game Online, dan lain-lain telah menjadi konsumsi publik sebagai media komunikasi. Selain itu, teknologi juga kerap digunakan sebagai instrumen untuk menyelesaikan berbagai tugas apapun. Sehingga ketergantungan pada teknologi malah menegasikan kemampuan manusia dalam melakukan tugas-tugas dasar secara mandiri.
Menghadapi Era Teknologi
Di era disrupsi teknologi yang semakin berkembang, kita dihadapkan pada suatu tantangan yang relatif kompleks dan beragam. Teknologi telah memberikan manfaat yang cukup besar bagi peradaban mausia, namun di sisi lain juga memberikan dampak negatif yang musti diperhatikan.
Dalam menghadapi era ini, perlu kiranya mengadopsi sikap proaktif dan bijaksana guna memaksimalkan manfaat teknologi serta meminimalisir dampak negatif dan resikonya.
Pertama-tama, pendekatan yang paling penting adalah melalui pendidikan dan kesadaran tentang teknologi. Masyarakat harus diberikan akses pemahaman teknologi secara baik guna mengenali potensi dan konsekuensi dari penggunaannya. Dalam hal ini, pendidikan teknologi yang komprehensif dapat membantu mengurangi kesenjangan digital untuk memastikan bahwa setiap individu dapat berpartisipasi di era ini yang serba digital.
Selanjutnya, juga penting bagi setiap individu dan masyarakat memperaktikkan penggunaan teknologi secara sehat. Ketergantungan pada teknologi sudah seharusnya diimbangi dengan kesadaran pentingnya “komunikasi secara langsung” bersama keluarga, misalnya, atau teman, pasangan, dan lainnya untuk menjaga keharmonisan sosial dalam kehidupan sehari-hari.
Selain itu, peran aktif pemerintah sebagai badan yang berwenang juga penting dalam merugulasi pesatnya perkembangan teknologi. Seperti membuat kebijakan seputar keamanan data privasi, misalnya, atau etika dalam menggunakan AI/kecerdasan buatan (artficial intellegency), serta memberikan support dalam melakukan penerlitian dan pengembangan teknologi berkelanjutan untuk menciptakan solusi terkait masalah tatanan sosial dan lingkungan.













