Oleh; Jhon Qudsi
Rektor UNIKA (Universitas Kehidupan)
Hari ini saya pengen melihat debat dari teman-teman mahasiswa dan mahasiswi bukan karena persoalan intelektual tetapi cari hiburan sekaligus melihat maba, hal ini menjadikan saya serasa muda seperti seusia dengan mereka.
terlihat suasananya cukup antusias walau pun terbilang sederhana tempatnya berada di emperan akademik, namun tidak mengurangi semangat dari para calon kandidat untuk duel argumentasi, hal ini membuktikan bahwasanya kegiatan itu merupakan panggung demokrasi bagi kalangan mahasiswa dan mahasiswi yang di sediakan oleh pihak kampus sebagai pembelajaran dari miniatur birokrasi.
Saya tidak banyak berharap selain mencari suasana baru di kampus, nantinya akan sedikit saya amati, sejauh mana perdebatan itu terjadi, sehingga menghasilkan pemikiran visi dan misi yang cermerlang untuk di jadikan sumber rujukan dari kualitas para calon tersebut.
pendek kata, biarlah dialektika bergulir tanpa di intervensi dari pihak-pihak tertentu sehingga para calon kandidat benar-benar mandiri secara intelektual ketika menyampaikan gagasannya.
walaupun nanti, semisal debat tidak terjadi di karenakan pesertanya tidak datang atau berhalangan, yang jelas debat kandidat ini mencerminkan kualitas dari para calon kandidat, siapa kelak yang bakal memimpin jalannya birokrasi di kampus.
Beberapa poin penting yang saya ingat dari para calon kandidat serta keluh kesah mahasiswi dan mahasiswi sebagai berikut.
1. para calon kandidat menginginkan adanya suatu perubahan secara kualitatif dari pihak kampus terkait sistem kebijakannya terutama mengenai fasilitas.
2. perlunya adanya ruang dialog dan diskusi terbuka untuk rektor dan dosen terhadap mahasiswa dan mahasiswi sebagai fungsi kontrol supaya terciptanya sistem yang ideal tanpa harus di curigai atau di halang-halangi.
3. harapan dari para mahasiswa dan mahasiswi supaya pihak pemangku kebijakan kampus supaya rasional ketika menaikkan UKT dll untuk di sampaikan oleh para calon kandidat ketika terpilih kepada rektor dan dosen.
4. para mahasiswa dan mahasiswi menitipkan aspirasi kepada para calon kandidat ketika terpilih agar menjalankan tugasnya jika tidak mampu, lebih baik mundur dari pada hanya mengotori struktur kepengurusan organisasi di kampus, hal itu dapat menghabiskan dana kemahasiswaan yang tidak berguna.
5. mahasiswi dan mahasiswi menuntut, ketika terjadi penyelewengan oleh rektor dan dosen agar memimpin demo dari kandidat terpilih dan menyatakan sikap terbuka terhadap rektor dan dosen untuk berhenti, karena hal ini menciderai citra nama baik kampus baik secara reputasi dan prestasi.
apapun yang terjadi, saya hanyalah penonton dari acara debat kandidat yang di selenggarakan di kampus, tugas saya adalah menyimak. Semoga aman dan terkendali, Amin ya rabbal alamin.
Tulisan ini menerima polemik secara terbuka dengan sanggahan dalam bentuk tulisan ( kolom), bagi pihak yang tidak menyetujui supaya di kritik di media suararakyatindo.













