Oleh: Jhon Qudsi
Rektor UNIKA Universitas Kehidupan
Kalau kita menelisik secara seksama tentang konsep marhaenisme yang di cetuskan oleh Soekarno tidak lain untuk mengatasi ketimpangan sosial terhadap kaum buruh dari belenggu kapitalisme, namun pada kenyataannya marhaenisme hanya sebagai jargon belaka dari kalangan Soekarnoisme karena belum mampu mensejahterakan masyarakat.
Mari kita dari kebijakan presiden pertama sampai sekarang, kaum proletariat ( petani dan buruh ) terpinggirkan di karenakan sistem kebijakan dari perundang-undangan yang tidak berpihak pada mereka, di antara contohnya saat ini, pupuk bersubsidi mahal dan langka, sebagai dampaknya para pertani merogoh kocek lebih dari biaya tanam, sedangkan hasil penjualan gabah rendah. Di sisi lain kaum buruh mengalami ketertindasan kesejahteraan hidupnya karena undang-undang yang berpihak kepada pengusaha sehingga susah untuk mencapai taraf kehidupan yang ideal.
Apakah saat ini marhaenisme mengalami kehampaan sejak semula di tinggalkan oleh sang putra fajar, hal yang membingungkan bagi orang yang mengatakan penganut paham marhaenisme justru jauh dari kehidupan petani dan buruh, hanya sekedar penikmat ideologi tidak adanya aktualisasi untuk menjawab persoalan kaum proletariat.
Kalau memang marhaenisme masih relevan, di manakah keperpihakan mereka untuk membela kesejahteraan terhadap kaum buruh dan petani, nyatanya yang kaya adalah penguasa tanah dari lingkaran kekuasaan sedangkan para buruh dan petani adalah penonton setia dari penghasilan kekayaan mereka.
Kejadian ini dapat membuktikan karena ideologi saja tidak cukup untuk mengatasi ketimpangan sosial, harus memerlukan gerakan kesadaran terhadap penguasa dan pengusaha agar lebih berpihak terhadap kaum buruh dan petani.
Mungkinkah marhaenisme mengalami kegagalan dalam menjawab tantangan jaman? atau para Soekarnoisme gugup melihat realitas sosial kaum proletariat sehingga canggung untuk berperan membela kesejahteraan hidup kaum buruh dan petani, barangkali saya terlalu berharap lebih terhadap orang-orang marhaenisme dan Soekarnoisme.
Pada akhirnya marhaenisme bukan lagi menjadi sebuah konsep pemikiran, melainkan barisan para aktivis yang sakit hati karena iri melihat para borjuis dengan gaya hedonis, mungkin hal ini terkesan lucu, tetapi benar-benar nyata, atas nama idealisme membunuh pemikiran orang lain sambil menghujat.
menurut pendapat saudara Mudasir setelah saya melakukan wawancara hasilnya sebagai berikut:
Bagaimana pandangan anda terhadap judul diskusi: marhaenisme di persimpangan jalan.
terkait judul sangat mengapresiasi karena mencoba untuk mereorientasi konsep pemikiran produk Soekarno.
Kira-kira langkah apa yang kongkrit marhaenisme di era sekarang
Kita seharusnya hidup dalam alam pikiran sendiri, karena sangat banyak dan beragam dari teori yang justru menimbulkan problem baru, langkah yang paling kongkrit adalah kita intensitaskan selaku mahasiswa bukan lagi tentang penyambung lidah rakyat, tapi lebih ke penanam kesadaran hakiki terhadap rakyat mengingat lebih dominan hegemoni dari pemegang kontrol kekuasaan.
Relevansi marhaenisme di era sekarang apa pendapat mu
tidak ada kajian relevansitas bagi orang yang hidup di dalam lingkaran ideologis, bila mana ia mempunyai kontruksi pemikiran dalam membangun paradigma sesuai tuntutan zaman.
Saya juga melakukan wawancara kepada saudari Devia Rosa terkait dengan, marhaenisme dari prespektif seorang perempuan, mengingat hak kaum buruh dari seorang perempuan belum mencapai kesetaraan untuk mencapai posisi dan jabatan strategis.
Menurut saya marhaenisme sangat perlu untuk kalangan perempuan, karena makna marhaenisme suatu pemahaman yang bertujuan untuk memperjuangkan rakyat jelata atau kaum yang tertindas, perlu kita ketahui, untuk saat ini justru perempuan banyak mengalami keterbatasan, perbedaan kedudukan, dan banyak hal yang membuat laki laki dan perempuan itu berbeda, seperti halnya untuk tingkatan pendidikan masih banyak yang berfikir bahwa perempuan berpendidikan, terkadang di anggap di butuhkan karana ujung ujungnya perempuan tugasnya di dapur, padahal kita sebagai perempuan perlu pendidikan, karena kita sebagai perempuan juga manusia, memiliki hak untuk memilih atas kehidupan kita sendiri dan kita sebagai calon ibu juga harus memberikan pendidikan yang lebih baik terhadap keluarga kita sendiri, jadi mengapa saya katakan kita harus paham akan marhaenisme, agar kita selaku kaum perempuan tidak merasa ditindas oleh keadaan yang terjadi saat ini.
saya akhiri dengan kutipan;
“sesuatu yang bersifat ideologi
akan kalah dengan urusan biologi.”tuturnya
tulisan ini menerima polemik secara terbuka di media massa suararakyatindo jika ada pihak yang keberatan.













