SUARARAKYATINDO.COM, Probolinggo – Sejak matahari belum sepenuhnya terbit, akses menuju Pondok Pesantren Zainul Hasan Genggong, Kabupaten Probolinggo, Jawa Timur, sudah dipadati kendaraan jamaah, Selasa (31/3/2026).
Ribuan orang dari berbagai daerah di Indonesia hadir untuk mengikuti Haul ke-73 KH Moh. Hasan Sepuh, ulama kharismatik yang jejak perjuangannya masih terus dikenang.
Dalam sambutannya, Gus Hassan Hasan Malik yang akrab disapa Gus Alex menyampaikan bahwa KH Hasan Sepuh merupakan sosok teladan yang patut ditiru oleh seluruh santri.
“Kiai Hasan Sepuh ini adalah sosok yang pantas ditiru oleh segenap santri. Ketika beliau mencari ilmu ke Mekkah, beliau berangkat dari Probolinggo dengan berjalan kaki,” ujarnya.
Ia menegaskan, perjalanan menuntut ilmu tersebut ditempuh selama enam bulan bersama saudaranya, Kiai Asnawi.
“Kiai Hasan Sepuh saat ingin mencari ilmu ke Kota Mekkah itu berjalan kaki selama 6 bulan bersama Kiai Asnawi saudaranya. Tidak ada kata mundur dalam mencari ilmu ke Kota Mekkah,” tegasnya saat memberikan sambutan di acara haul.
Gus Alex juga menceritakan kehidupan KH Hasan Sepuh sepulang dari Mekkah. Menurutnya, setelah kembali ke Probolinggo, beliau menikah dengan Nyai Ruwaidah dan dikaruniai putra pertama bernama Ahmad Nahrowi.
“Sepulang dari Kota Mekkah, Kiai Hasan Sepuh Genggong langsung pulang ke Probolinggo dan menikah dengan Nyai Ruwaidah dan mempunyai putra pertama Ahmad Nahrowi,” katanya.
Ia menambahkan, dari situlah KH Hasan Sepuh turut membantu mengembangkan pendidikan dan keilmuan di Pondok Pesantren Genggong bersama mertuanya, Kiai Zainal Abidin.
“Dari situlah Kiai Hasan Sepuh Genggong membantu mengembangkan ilmu di Pondok Pesantren Genggong bersama Kiai Zainal Abidin selaku mertua beliau,” lanjutnya.
Selain itu, Gus Alex mengisahkan peristiwa yang diyakini sebagai bagian dari karomah KH Hasan Sepuh. Ia menyebut, sang kiai pernah mengetahui rencana kedatangan Belanda ke Genggong.
“Dulu di Ponpes Zainul Hasan Genggong ada pohon asam, dan sama Kiai Hasan Sepuh itu digoyang-goyang. Ponakannya bingung kenapa kok pohon digoyang-goyang. Ternyata pada saat itu Belanda ingin datang ke Genggong, lantaran di Pajarakan terjadi gempa akhirnya tidak jadi ke Genggong Belanda tersebut,” tambahnya.
Haul ke-73 ini menjadi momentum untuk kembali mengenang perjuangan, keteguhan, dan keteladanan KH Moh. Hasan Sepuh dalam menuntut ilmu serta mengembangkan pendidikan Islam di Probolinggo.













