SUARARAKYATINDO.COM – Jember, Saat banyak sektor ekonomi tertekan akibat gejolak geopolitik dan ketidakpastian global, industri edamame Indonesia justru mencatatkan capaian impresif.
Komoditas hijau unggulan dari Jember, Jawa Timur, ini sukses menembus pasar global berkat strategi inovatif dan kemitraan kuat dengan petani desa.
Komisaris PT Mitratani Dua Tujuh, Mahendra Utama, menyebut krisis internasional seperti konflik Iran-Israel, lonjakan harga minyak, dan pelemahan rupiah bukan hambatan, melainkan peluang untuk memperkuat fondasi industri lokal.
“Edamame bukan sekadar produk ekspor, tetapi lambang kekuatan ekonomi dari desa. Kami ingin membuktikan bahwa dari Jember, kita bisa bicara di panggung dunia,” ujar Mahendra, Jumat (20/6/2025).
Meski biaya logistik dan energi melonjak akibat kurs rupiah yang menyentuh Rp16.400 per dolar AS dan harga minyak tembus USD 78,50 per barel, ekspor edamame tetap bergairah.
Jepang masih menjadi pasar utama dengan volume ekspor 7.800 ton per tahun, sementara permintaan dari Timur Tengah melonjak hingga 20 persen sejak peluncuran “Wonderful Edamame from Jember”.
Kemitraan dengan lebih dari 200 BUMDes di kawasan Tapal Kuda menjadi pilar utama keberhasilan ini. Produksi edamame meningkat dari 6.000 ton menjadi 13.000 ton per tahun, menciptakan lapangan kerja baru dan meningkatkan pendapatan petani lokal, termasuk generasi muda tani.
Tak hanya mengandalkan pasar tradisional seperti Jepang, Mitratani mulai memperluas jangkauan ke India, UEA, dan Eropa sejak 2023. Hasilnya signifikan: ekspor ke India meningkat empat kali lipat dalam setahun. Diversifikasi pasar ini menjadi langkah strategis mengurangi risiko ketergantungan pada satu negara tujuan.
Selain itu, perusahaan tengah mengembangkan pembangkit tenaga surya untuk menunjang operasional ramah lingkungan, mendukung agenda energi hijau yang digalakkan pemerintah.
Mitratani juga fokus pada hilirisasi edamame. Salah satu inovasi terbaru adalah produk jus edamame (jusme) yang punya nilai tambah tinggi. Ini sejalan dengan arahan Presiden Prabowo agar industri pangan tak hanya mengekspor bahan mentah, tapi juga produk olahan berkualitas.
Dukungan teknologi canggih seperti Individual Quick Freezing (IQF) berkapasitas 3 ton per jam menjadi andalan untuk menjaga mutu ekspor sesuai standar internasional BRC Grade A+.
Di sisi lain, langkah ekspansi lahan dari 1.639 hektare ke 1.800 hektare di empat kabupaten di Jawa Timur menunjukkan keseriusan perusahaan dalam menjaga pasokan berkelanjutan.
Untuk mengantisipasi fluktuasi mata uang, Mitratani mendorong skema Local Currency Settlement (LCS) agar transaksi ekspor lebih stabil dan efisien, khususnya dengan mitra di Asia.
Sebagai bentuk komitmen terhadap ketahanan pangan nasional, perusahaan juga menanam 5.000 pohon aren sebagai sumber bahan baku alternatif untuk gula sehat berbasis lokal.
Komisaris PT Mitratani Dua Tujuh, Mahendra Utama, menekankan bahwa ketahanan ekonomi dimulai dari akar rumput.
“Gejolak global justru mempertegas bahwa pangan adalah kebutuhan utama. Edamame dari Jember membuktikan bahwa Indonesia punya peran besar dalam rantai pasok dunia. Kami ingin ekspor dari desa tak hanya bertahan, tapi mendunia,” pungkasnya.












