SUARARAKYATINDO.COM, Probolinggo – Nasib para petani tembakau di Kabupaten Probolinggo sudah bangga dengan harga yang tinggi, akan tetapi harga yang tinggi itu gudang besar tak kunjung buka.
Gudang besar kian tak buka maka nasib petani tembakau terkatung-katung. Sebab, tembakau yang dipanen belum juga diserap atau dibeli gudang besar.
Hasil panen tak terserap akibat gudang besar belum buka. Padahal, harga tembakau di Kabupaten Probolinggo lagi mahal-mahalnya.
Harga tembakau petik pertama sudah harga 60 an, petik kedua harga sudah ada 65-69 per kilogram kalau tembakau bagus.
Seorang petani tembakau Sugito, warga Kecamatan Krejengan, Kabupaten Probolinggo mengatakan gudang besar yang biasa menyerap tembakau tak kunjung buka harga sehingga hampir memasuki puncak masa panen ini.
Sugito menyebut kini harga tembakau sedang tinggi, yakni mencapai Rp 65 ribu sampai Rp 69 ribu per kilogram.
“Tembakau di wilayah timur Kabupaten Probolinggo, sudah memasuki panen daun atas. Artinya, masa panen tembakau ini hampir tuntas. Harusnya, dengan harga tembakau Rp 65 ribu sampai Rp 69 ribu, gudang besar sudah buka,” katanya, Senin (28/8/2023).
Sugito menambahkan, petani sementara ini hanya memasok tembakau ke gudang kecil saja. Kondisi serupa memang sudah kerap terjadi setiap tahun masa panen.
“Gudang besar seakan-akan menghindar dari harga mahal ini, harusnya, kan sudah dibuka,” tambahnya.
Sekretaris Asosiasi Petani Tembakau Indonesia (APTI) Kabupaten Probolinggo, Mohamad Hasin, merespon keluhan petani tembakau.
Menurutnya, gudang besar seperti Sampoerna, Bentoel, dan Gudang Garam, harusnya sudah buka dan mengambil tembakau dari petani.
“Harganya mahal, sekarang Rp 68 ribu hingga Rp 69 Ribu per kilogramnya. Tapi mengapa gudang besar ini masih belum buka. Saya mendesak gudang segera buka,” paparnya.













