Menu

Mode Gelap
Jemaah Haji Asal Probolinggo Korban Kecelakaan di Madinah Dipastikan Pulih Exploring the Advantages and Advances of Physical Gold and Silver IRAs In 2023 Mostbet uz: download apk and skachat yuklab Android/IOS download for Uzbekistan, kirish login com, reviews, owner’s photo, casino bet, uzb Android online Probolinggo Dipantau 480 CCTV, Warga Makin Aman atau Justru Terawasi? Dugaan Pelanggaran Etik ASN dan PPPK di Dinkes Probolinggo Disorot Publik May Day di Kabupaten Probolinggo Penuh Kebersamaan, Buruh Sampaikan Delapan Tuntutan

Daerah

Lawan Budaya Patriarki, Gus Hilmy Ajak Perempuan Menulis Sejarahnya Sendiri

badge-check


					Hilmy Muhammad saat menghadiri acara Peringatan Hari Lahir Jam’iyyah Perempuan Pengasuh Pesantren dan Muballighoh (JPPPM) di Aula Asrama Putra Madrasah Aliyah Pondok Pesantren Krapyak Yogyakarta pada Ahad (24/11/2024). (Foto:Kirwan) Perbesar

Hilmy Muhammad saat menghadiri acara Peringatan Hari Lahir Jam’iyyah Perempuan Pengasuh Pesantren dan Muballighoh (JPPPM) di Aula Asrama Putra Madrasah Aliyah Pondok Pesantren Krapyak Yogyakarta pada Ahad (24/11/2024). (Foto:Kirwan)

SUARARAKYATINDO.COM – YOGYAKARTA, Di hadapan ratusan ibu nyai pengasuh pondok pesantren dan mubaligh perempuan, Anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD) RI Hilmy Muhammad, menyampaikan tantangan ulama perempuan yang kurang menonjol, diantaranya karena budaya patriarki yang menempatkan perempuan sebagai warga kelas kedua. Budaya ini, menurutnya, mesti dapat dipandang secara positif.

“Perempuan dianggap sebagai konco wingking, tapi secara positif, konco wingking adalah pendamping. Memang, dalam budaya kita, perempuan memiliki tugas-tugas domestik. Namun hal itu tidak lepas dari upaya berbagi peran. Saya yakin, perjuangan kiai-kiai besar, tidak bisa tidak, juga berkat dorongan dan dukungan para istri,” jelas pria yang akrab disapa Gus Hilmy tersebut dalam Peringatan Hari Lahir Jam’iyyah Perempuan Pengasuh Pesantren dan Muballighoh (JPPPM) di Aula Asrama Putra Madrasah Aliyah Pondok Pesantren Krapyak Yogyakarta pada Ahad (24/11/2024).

Dalam kegiatan yang bertajuk “Meneruskan Perjuangan Para Ulama dengan Meningkatkan Tafaqquh Fiddin Menebar Maslahat untuk Umat” tersebut, Gus Hilmy mengajak para ibu nyai menjadikan santri-santrinya untuk siap dan cakap, tanpa meninggalkan tradisinya sebagai seorang wanita. Dengan cara demikian, menurut salah satu pengasuh Pondok Pesantren Krapyak tersebut, perempuan dapat menuliskan sejarahnya sendiri.

“Tetap sebagai perempuan, tetapi memiliki peran sesuai dengan keinginannya masing-masing. Ini bagian dari upaya untuk mengubah perspektif. Jika hari ini ada keluhan minimnya catatan tentang ulama perempuan, maka perempuan harus menuliskan sejarahnya sendiri. Jangan menunggu laki-laki menulis, sebab perspektifnya nanti akan laki-laki juga,” papar anggota Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat tersebut.

Demikian juga, kata Gus Hilmy, para ibu nyai, harus bersedia membuka diri. Kalau ada putri atau santri yang ingin sekolah di luar negeri, mendaftar pada profesi-profesi atau berkiprah di luar institusi agama, jangan dihalang-halangi. Justru harus dipandang sebagai upaya untuk memberdayakan diri.

“Yang penting kita kuatkan bahwa anak-anak kita tetap menjunjung tinggi budaya dan kuat dengan syariatnya. Yang kita sesalkan adalah ibu nyai melarang anaknya sekolah tinggi, daftar polisi, jadi host, dan sebagainya. kamu itu perempuan harus begini begini. Inilah yang menjadi tugas JPPPM agar yang begini tidak ada lagi,” tutur Senator asal Yogyakarta tersebut.

Kegiatan yang dimaksudkan untuk memperingati Hari Lahir JPPPM yang ke-9 tersebut dihadiri diantaranya Ummi Salamah, Musta’anah, Ida Rufaida Ali, dan Durroh Rosim.

Melalui pertemuan tersebut, Gus Hilmy berpesan agar JPPPM bersinergi dengan Rabithah Ma’ahid Islamiyah (RMI). Menurutnya, lingkupnya memang berbeda, tetapi keduanya memiliki irisan yang sama-sama objeknya adalah pondok pesantren.

“Yang kita lihat NU-nya. RMI di bawah NU, JPPPM juga bagian dari warga NU. Mari bersama-sama ikut dalam arus besar umat Islam di Indonesia atau NU sebagai al-jamaah. Dengan demikian JPPPM akan memperkuat posisi RMI. Sebaliknya, RMI juga bisa merangkul JPPPM. Ibarat suami istri, akan sangat positif jika bisa saling sinergi. Tentu harapannya akan memberikan manfaat yang lebih besar lagi,” pesan Katib Syuriah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) tersebut.

Facebook Comments Box

Baca Lainnya

Wali Kota Absen, Rapat Paripurna LKPJ DPRD Kota Probolinggo Dijadwal Ulang

20 April 2026 - 18:35 WIB

Pemerintah Kota Probolinggo Wajibkan OPD Gunakan Air Mineral Lokal, DPRD Soroti Potensi Keberpihakan

Genggong Go Green ke-7, Gerakan Moral Bersepeda untuk Efisiensi Energi

19 April 2026 - 17:10 WIB

Genggong Go Green ke-7, Gerakan Moral Bersepeda untuk Efisiensi Energi

Ketua PC GP Ansor Kraksaan Siap Tempuh Jalur Hukum Usai Aksi di Rumah Pribadi

19 April 2026 - 13:28 WIB

Ketua PC GP Ansor Kraksaan Siap Tempuh Jalur Hukum Usai Aksi di Rumah Pribadi

Abd Wahid Resmi Jadi Sekretaris PC GP Ansor Kraksaan, Tegaskan Dipilih Lewat Pleno Sah

19 April 2026 - 10:53 WIB

Abd Wahid Resmi Jadi Sekretaris PC GP Ansor Kraksaan, Tegaskan Dipilih Lewat Pleno Sah

Komandan Banser Kraksaan Bantah Keterlibatan Organisasi dalam Aksi di Kediaman Ketua GP Ansor

19 April 2026 - 10:48 WIB

Komandan Banser Kraksaan Bantah Keterlibatan Organisasi dalam Aksi di Kediaman Ketua GP Ansor
Trending di Daerah
error: