SUARARAKYATINDO.COM, Probolinggo — Ledakan kemarahan warga akhirnya tak terbendung. Skandal yang selama ini hanya beredar dari mulut ke mulut kini pecah ke permukaan. Dugaan praktik kekuasaan menyimpang di tubuh Pemerintahan Desa Tanjung Rejo menyeruak brutal, menyeret langsung nama kepala desa sebagai pihak yang paling disorot.
Konflik tambang yang seharusnya diselesaikan dengan musyawarah justru berubah menjadi bara perlawanan. Warga menuding keras: kepala desa bukan lagi pelindung, melainkan aktor yang diduga membuka pintu bagi kepentingan tambang tanpa restu rakyat.
Ini bukan lagi sekadar dugaan kelalaian. Ini sudah mengarah pada indikasi pengkhianatan terhadap amanah jabatan.
“Ini Bukan Pemimpin, Ini Penguasa!”
Kesaksian warga mulai bermunculan, membuka lapisan demi lapisan dugaan praktik sepihak yang mencurigakan.
Salah satu warga, HF, dengan nada tak terbendung menyampaikan:
“Saya sudah konfirmasi langsung. Jawabannya selalu tidak tahu. Tapi fakta di lapangan berbeda! Pihak tambang sendiri bilang mereka jalan atas izin kepala desa sementara warga tidak pernah sepakat!”
Pernyataan ini menjadi bom waktu. Jika benar, maka ada dugaan kuat bahwa keputusan strategis desa telah diambil tanpa legitimasi masyarakat.
“Ini bukan pemerintahan desa! Ini kekuasaan liar! Seolah-olah Tanjung Rejo milik pribadi. Gaya kolonial hidup lagi rakyat diinjak, kepentingan pribadi dijunjung!” lanjutnya.
Lebih tajam lagi, tudingan yang paling mengguncang pun dilontarkan:
“Kepala desa bukan membangun, tapi menjual desa! Menjual hak rakyat demi kepentingan yang patut dipertanyakan!”
Kini sorotan tak hanya tertuju pada kepala desa. Inspektorat Kabupaten ikut diseret ke pusaran tekanan publik.
Warga melayangkan ultimatum keras:
1. Segera lakukan AUDIT TOTAL tanpa kompromi
2. Buka seluruh dokumen, izin, dan aliran kebijakan terkait tambang
3. Periksa kepala desa tanpa pandang jabatan
4. Jika Inspektorat tetap diam, publik menilai ada pembiaran ada bahkan potensi ikut terseret dalam pusaran masalah ini.
“Kalau tidak ada tindakan, jangan salahkan publik jika menganggap pengawasan hanya formalitas! Ini uang rakyat, ini hak rakyat, ini masa depan desa!” tegas salah satu tokoh masyarakat.
Situasi kini berada di titik didih. Warga mengisyaratkan tidak akan tinggal diam. Aksi besar-besaran, pelaporan ke aparat penegak hukum, hingga eskalasi ke tingkat nasional menjadi opsi yang mulai disiapkan.
“Kalau desa dijual, kami akan lawan! Ini bukan lagi soal tambang, ini soal harga diri warga Tanjung Rejo!” seru warga lainnya.
Hingga detik ini, kepala desa Tanjung Rejo belum memberikan klarifikasi resmi. Tidak ada penjelasan, tidak ada transparansi. Diamnya pemimpin di tengah badai tudingan justru memperkeras kecurigaan.
Jika dugaan ini benar, maka yang runtuh bukan hanya kepercayaan warga Tanjung Rejo tapi juga wajah penegakan hukum di tingkat paling dasar. Publik kini menunggu, apakah hukum benar-benar hidup, atau hanya sekadar tulisan tanpa nyali?













