Menu

Mode Gelap
Roma Sondhuk Gelar Pameran Pusaka Nusantara, Angkat Spirit Pelestarian Budaya Lewat Ngaji Budaya Garda Bangsa Kabupaten Probolinggo Rayakan Harlah ke-27, Optimistis PKB Raih 14 Kursi di 2029 Tegaskan Peran Pemuda Politik, Garda Bangsa Probolinggo Bidik 14 Kursi DPRD Garda Bangsa Kabupaten Probolinggo Peringati Harlah ke-27, Teguhkan Spirit Kemenangan 2029 Video MBG Diduga Berulat, Dapur SPPG Tongas Kulon Beri Klarifikasi Aktivis KontraS Andrie Yunus Disiram Air Keras Usai Podcast di YLBHI

Kolom

Rektor Tidak Boleh Diktator

badge-check


					Kekompakan yang dialami oleh salah satu pemuda untuk bangsa. (Foto: SRI) Perbesar

Kekompakan yang dialami oleh salah satu pemuda untuk bangsa. (Foto: SRI)

Oleh: Jhon Qudsi

Rektor Universitas Kehidupan

Sabtu sore hari 16 September 2023, saya melihat penampilan Teater Pohon bertemakan tentang kekuasaan yang sistem kebijakannya otoriter, akhirnya jatuh dengan dengan gerakan perlawanan demo dan kritikan yang di lakukan oleh mahasiswa, kurang lebihnya begitulah yang saya tangkap berdasarkan tafsiran pribadi

Akankah seorang Rektor hanya tersenyum manis, atau membuat serangan balik untuk membantah atas segala tuduhannya sehingga para mahasiswa yang kritis terhadap kebijakannya terdiam, entahlah saya hanya sebagai penonton yang awam terhadap urusan kekuasaan, padahal jabatan seorang Rektor hanyalah sementara waktu

Mari kita merenung sejenak, dari pertunjukan Teater Pohon untuk merefleksikan kesadaran dinamika kampus yang terhambat kemajuannya, mungkinkah seorang Rektor mengetahui tentang kejadian tersebut, atau pura-pura sibuk dengan tugas yang tidak begitu penting, tentunya orang yang mempunyai jabatan Rektor haruslah sadar akan kritikan

Hal ini berdampak kehancuran sistem kampus jika tidak segera di benahi, kerusakan dan keterpurukan pasti terjadi, mengalami ketertinggalan dengan kampus-kampus yang lain, pertanyaan adalah, mengapa setiap mahasiswa yang kritis harus di musuhi dan di larang melakukan demo?

Ini juga menyangkut akhlak bukan malah berdalih atas nama akhlak membunuh nalar kritis. Ketahuilah tata kelola yang baik dan sehat adalah akhlak manajerial, ayo dong sekali-kali mikir tanpa harus menyikapi secara emosional

“Tidak ada sistem kebijakan yang ideal tanpa adanya kritik demi menjaga kestabilan sebagai fungsi kontrol agar supaya harmoni.”tuturnya.

Diantara yang perlu di pertanyakan terkait kebijakan Rektor
1. Transparansi Keuangan
2. Fasilitas penunjang kampus, buku-bukunya sudah lama dan kurang menarik pembaca
3. Kenaikan UKT secara sepihak tanpa adanya negosiasi dengan para mahasiswa dan mahasiswi

Atau memang benar, sejumlah tuduhan yang di alamatkan kepada Rektor, adanya indikasi korupsi di lingkungan kampus sehingga berdampak pada kualitas pendidikan mahasiswa dan mahasiswi menjadi rendah, apa perlu gerakan revolusioner untuk mengganti Rektor karena tidak becus mengurus kampus

Dalam hal ini Rektor sebagai pemangku kebijakan kampus harus terbuka terhadap mahasiswa dan mahasiswi supaya terciptanya tata kelola yang sehat, mahasiswa dan mahasiswi ingin perubahan

Karena mahasiswa dan mahasiswi membayar, mereka butuh jawaban bukan malah menutup diri, mungkinkah ada kecurangan dalam tata kelola keuangan apalagi laporan ke pihak yayasan gampang di manipulatif hanya berdasarkan kongkalikong

Barangkali mahasiswa dan mahasiswi harus bersuara tentang kebijakan Rektor untuk di pertanyakan ulang agar tercipta sistem birokrasi kampus menjadi sehat, atau dengan cara yang fatal, membiarkan ke kedzaliman itu terjadi sembari menertawakan, bukan karena tidak berani, melainkan sudah muak melihat kejadian tersebut

mahasiswa dan mahasiswi punya segudang pertanyaan dan keresahan, saya yakin Rektor punya seribu dalih, apakah benar atau tidak, mari kita uji dengan aksi dan mediasi secara terbuka terhadap mahasiswa dan mahasiswi. Ayo jangan lari dari pertanggungjawaban dari pertanyaan, dan sikapi dengan bijaksana

Mahasiswa dan Mahasiswi berani orator
Dosen tidak boleh menjadi otoriter
Doktor tidak boleh main kotor
Rektor tidak boleh diktator

Ini sekedar tafsiran saya ketika melihat penampilan Teater Pohon, barangkali ada pendapat lain yang mungkin lebih jernih cara pandangnya, yang jelas kita punya prespektif dengan imajinasinya masing-masing, saya tutup dengan ucapan, innalillahiwainnailaihirojiun

Facebook Comments Box

Baca Lainnya

Makan Bergizi Gratis (MBG) : Kebijakan Populis yang Mengorbankan Pendidikan?

16 Februari 2026 - 18:41 WIB

Ilustrasi Anggaran Pendidikan dan Program MBG 2026

Jangan Selalu Norma, Mari Pandang Coming Out LGBTQ+ Dari Kacamata Psikologi

1 Oktober 2025 - 20:55 WIB

Jangan Selalu Norma, Mari Pandang Coming Out LGBTQ+ Dari Kacamata Psikologi

Kisah Kelam Sejarah G30S PKI, Mahasiswa Harus Jadi Garda Terdepan Menjaga Ideologi Pancasila

1 Oktober 2025 - 12:35 WIB

Kisah Kelam Sejarah G30S PKI, Mahasiswa Harus Jadi Garda Terdepan Menjaga Ideologi Pancasila

Sajak Mahendra Utama, Untuk Gus Imin di Hari Lahirmu

24 September 2025 - 12:20 WIB

Sajak Mahendra Utama, Untuk Gus Imin di Hari Lahirmu

Sajak Mahendra Utama, Untuk Affan Kurniawan, Yang Terbaring di Aspal Jakarta

30 Agustus 2025 - 19:38 WIB

Sajak Mahendra Utama, Untuk Affan Kurniawan, Yang Terbaring di Aspal Jakarta
Trending di Kolom
error: