Oleh: Jhon Qudsi
Rektor Universitas Kehidupan
Sabtu sore hari 16 September 2023, saya melihat penampilan Teater Pohon bertemakan tentang kekuasaan yang sistem kebijakannya otoriter, akhirnya jatuh dengan dengan gerakan perlawanan demo dan kritikan yang di lakukan oleh mahasiswa, kurang lebihnya begitulah yang saya tangkap berdasarkan tafsiran pribadi
Akankah seorang Rektor hanya tersenyum manis, atau membuat serangan balik untuk membantah atas segala tuduhannya sehingga para mahasiswa yang kritis terhadap kebijakannya terdiam, entahlah saya hanya sebagai penonton yang awam terhadap urusan kekuasaan, padahal jabatan seorang Rektor hanyalah sementara waktu
Mari kita merenung sejenak, dari pertunjukan Teater Pohon untuk merefleksikan kesadaran dinamika kampus yang terhambat kemajuannya, mungkinkah seorang Rektor mengetahui tentang kejadian tersebut, atau pura-pura sibuk dengan tugas yang tidak begitu penting, tentunya orang yang mempunyai jabatan Rektor haruslah sadar akan kritikan
Hal ini berdampak kehancuran sistem kampus jika tidak segera di benahi, kerusakan dan keterpurukan pasti terjadi, mengalami ketertinggalan dengan kampus-kampus yang lain, pertanyaan adalah, mengapa setiap mahasiswa yang kritis harus di musuhi dan di larang melakukan demo?
Ini juga menyangkut akhlak bukan malah berdalih atas nama akhlak membunuh nalar kritis. Ketahuilah tata kelola yang baik dan sehat adalah akhlak manajerial, ayo dong sekali-kali mikir tanpa harus menyikapi secara emosional
“Tidak ada sistem kebijakan yang ideal tanpa adanya kritik demi menjaga kestabilan sebagai fungsi kontrol agar supaya harmoni.”tuturnya.
Diantara yang perlu di pertanyakan terkait kebijakan Rektor
1. Transparansi Keuangan
2. Fasilitas penunjang kampus, buku-bukunya sudah lama dan kurang menarik pembaca
3. Kenaikan UKT secara sepihak tanpa adanya negosiasi dengan para mahasiswa dan mahasiswi
Atau memang benar, sejumlah tuduhan yang di alamatkan kepada Rektor, adanya indikasi korupsi di lingkungan kampus sehingga berdampak pada kualitas pendidikan mahasiswa dan mahasiswi menjadi rendah, apa perlu gerakan revolusioner untuk mengganti Rektor karena tidak becus mengurus kampus
Dalam hal ini Rektor sebagai pemangku kebijakan kampus harus terbuka terhadap mahasiswa dan mahasiswi supaya terciptanya tata kelola yang sehat, mahasiswa dan mahasiswi ingin perubahan
Karena mahasiswa dan mahasiswi membayar, mereka butuh jawaban bukan malah menutup diri, mungkinkah ada kecurangan dalam tata kelola keuangan apalagi laporan ke pihak yayasan gampang di manipulatif hanya berdasarkan kongkalikong
Barangkali mahasiswa dan mahasiswi harus bersuara tentang kebijakan Rektor untuk di pertanyakan ulang agar tercipta sistem birokrasi kampus menjadi sehat, atau dengan cara yang fatal, membiarkan ke kedzaliman itu terjadi sembari menertawakan, bukan karena tidak berani, melainkan sudah muak melihat kejadian tersebut
mahasiswa dan mahasiswi punya segudang pertanyaan dan keresahan, saya yakin Rektor punya seribu dalih, apakah benar atau tidak, mari kita uji dengan aksi dan mediasi secara terbuka terhadap mahasiswa dan mahasiswi. Ayo jangan lari dari pertanggungjawaban dari pertanyaan, dan sikapi dengan bijaksana
Mahasiswa dan Mahasiswi berani orator
Dosen tidak boleh menjadi otoriter
Doktor tidak boleh main kotor
Rektor tidak boleh diktator
Ini sekedar tafsiran saya ketika melihat penampilan Teater Pohon, barangkali ada pendapat lain yang mungkin lebih jernih cara pandangnya, yang jelas kita punya prespektif dengan imajinasinya masing-masing, saya tutup dengan ucapan, innalillahiwainnailaihirojiun













