Oleh: Atiqurrahman
Jika melihat secara sepintas, tampaknya apa yang dinyatakan Rocky Gerung (RG) kepada presiden Jokowi itu salah dan tidak pantas.
Karena RG menggunakan kata-kata kasar (bajingan tolong) dalam menyampaikan kritiknya. Dan, itu dianggap sebuah penghinaan bagi orang yang memegang adab ketimuran.
Namun, terlepas dari semua itu, saya tahu, bahwa RG tidak peduli soal tatakrama dan kesopan santunan. Ini terlihat dari pernyataannya bahwa, “sopan santun itu bahasa tubuh, pikiran tidak memerlukan sopan santun. Sopan santun dalam pikiran adalah kemunafikan”.
Karena itu, bagi RG, kritik itu sepenuhnya soal rasionalitas dan nalar yang ditujukan pada suatu kebijakan yang diputuskan oleh penguasa.
Dalam artian, setiap kebijakan perlu dikontrol dan diawasi oleh ide dan nalar akal sehat. Agar kebijakannya tepat sasaran, dan tidak merugikan rakyat. Karenanya, RG memposisikan dirinya sebagai oposisi terhadap rezim politik siapa pun.
Rocky Gerung dan Kosongnya Suara Oposisi.
Jika Anda bertanya, siapa oposisi terbaik di republik ini?, saya secara tegas menjawabnya adalah Rocky Gerung.
Sebab, faktanya, hanya Rocky Gerung-lah yang berani melancarkan kritik keras kepada kekuasaan. RG mencoba mengisi kosongnya suara-suara oposisi terhadap kekuasaan saat ini.
Dan, RG mampu melakukannya secara sendirian. Bahkan bisa memanfaatkan setiap momentum untuk menguliti dan menelanjangi segala kebijakan politik Jokowi dengan argumentasi satire dan bernas.
Seharusnya, sikap oposisi ini dilakukan oleh seluruh kalangan masyarakat, terutama partai politik dan para intelektual atau akademisi. Tapi, sebagian (besar) justru membebek dan mengamini narasi-narasi kekuasaan.
Kita tahu, mayoritas partai politik telah diakomodasi oleh Jokowi. Hanya PKS dan Demokrat yang berada diluar gelanggang kekuasaan. Namun, sikap oposisionalnya masih setengah hati, tanpa ada perlawanan secara signifikan.
Lalu, bagaimana dengan para intelektual atau akademisi?, saya setuju dengan apa yang disampaikan oleh Mas Wahyudi Akmaliah dalam tulisannya berjudul “Sosok Oposisi Itu Bernama Rocky Gerung”.
Menurutnya, para intelektual atau akademisi telah terbonsai dengan urusan administratif kampus, serta sibuk dalam mengejar jurnal internasional. Sehingga tak ada waktu sedikit pun untuk sekedar memberikan kritik atau koreksi terhadap jalannya kekuasaan.
Meskipun demikian, saya mendukung sepenuhnya kritik-kritik yang dilancarkan oleh Rocky Gerung. Agar kekuasaan itu tidak mengarah pada otoriterianisme. Dan, demokrasi berjalan sebagaimana mestinya.
Lagi pula, Rocky Gerung adalah aktivis sekaligus pejuang demokrasi, sejak tahun 1990-an bersama Forum Demokrasi (ForDem), sebuah organisasi sipil yang didirikan oleh Gus Dur, Rahman Tolleng, Marsilam Simanjuntak dkk, sebagai wadah perlawanan terhadap rezim Orde Baru.
Bahkan, RG pernah menjadi juru tulis dalam setiap kebijakan politik yang dikeluarkan oleh ForDem. Juga, seringkali RG membantu para aktivis dalam membuat Pledoi atau noktah pembelaan ketika ditangkap oleh polisi.
Salah satunya adalah Fadjroel Rahman, yang sekarang ini berada dalam lingkaran kekuasaan Jokowi. Tepatnya, menjadi juru bicara presiden.
Maka, hemat saya, Presiden Jokowi perlu berterima kasih kepada Rocky Gerung, karena senantiasa mengaktifkan akal sehatnya hanya untuk mengkoreksi setiap kebijakan politiknya.













