Menu

Mode Gelap
Mostbet uz: download apk and skachat yuklab Android/IOS download for Uzbekistan, kirish login com, reviews, owner’s photo, casino bet, uzb Android online Probolinggo Dipantau 480 CCTV, Warga Makin Aman atau Justru Terawasi? Dugaan Pelanggaran Etik ASN dan PPPK di Dinkes Probolinggo Disorot Publik May Day di Kabupaten Probolinggo Penuh Kebersamaan, Buruh Sampaikan Delapan Tuntutan Skandal ASN–PPPK di Probolinggo Meledak, Digerebek Suami di Mal hingga Berujung Adu Fisik Harga Daging Ayam di Probolinggo Melonjak, Warga Kurangi Pembelian

Kolom

Konflik Suriah: Siapa Saja Aktor yang ‘Bermain’ di Dalamnya?

badge-check


					Salwa Nafiah selaku penulis. (Foto: SRI) Perbesar

Salwa Nafiah selaku penulis. (Foto: SRI)

Oleh: Salwa Nafiah

Berawal dari beberapa remaja yang dengan sengaja mencoret tembok kota di Suriah sebagai bentuk perlawanannya terhadap pemerintahan rezim Assad. Para remaja tersebut menuliskan slogan anti pemerintah yang berbunyi “Rakyat menginginkan rezim turun”. Menurut Lararenjana (2020) aksi para remaja remaja tersebut terinspirasi dari adanya gejolak politik yang terjadi di Tunisia yang mampu membuat pemimpin negaranya turun dari kursi kedaulatannya, aksi dari para remaja ini kemudian mendapat respon negatif dari Pemerintahan Assad. Presiden Bashar Al Assad kemudian menugaskan bawahannya untuk menangkap serta menahan para remaja tersebut yang terlibat. Masyarakat kemudian mengadakan aksi protes agar para remaja tersebut dibebaskan karena mereka hanya berusaha menyalurkan aspirasinya dan menginginkan Presiden Bashar Al Assad turun dari kursi kekuasaannya karena mereka. Masyarakat Suriah pada awalnya hanya menginginkan adanya reformasi politik di negaranya, karena mereka merasa tidak sejalan dengan rezim Assad yang tidak demokratis. Para tentara yang mengetahui hal tersebut lalu menembaki para demonstran yang menyebabkan empat nyawa melayang. Respon dari Presiden Bashar Al Assad dalam menanggapi aksi demonstran itu menuai kecaman dari rakyatnya sendiri, dalam hal ini Presiden Suriah dapat dikatakan gagal dalam memimpin Suriah. Kegagalannya ini mengundang kelompok asing untuk ikut serta berperan dalam konflik yang terjadi di Suriah.

Lantas siapa saja actor yang ikut serta dalam konflik Suriah ini? Dan entitas apa yang berusaha mereka capai?

Para actor yang terlibat ini tentunya tidak datang tanpa sebab melainkan mereka membawa kepentingan nasionalnya yang ingin mereka capai, berikut adalah para actor dalam konflik Suriah:

Yang pertama adalah Bashar Al Assad, Ia merupakan actor utama dalam negaranya sendiri. Menurut Suhartini (2022) Bashar Al Assad berupaya untuk menggabungkan antara militer dengan pemerintahannya dengan tujuan untuk memperkuat kekuasaannya dan juga Ia menebarkan jaringannya agar lebih luas. Bashar Al Assad bersikeras untuk tetap berkuasa di Suriah. Ia juga didukung oleh Rusia dan Iran untuk melawan kelompok oposisi. Upaya Bashar Al Assad untuk tetap menguasai Suriah membuat hambatan terhadap mas depan Suriah yang lebih maju. Selanjutnya ada Iran mendukung rezim Assad karena Iran berpandangan bahwa jika negaranya bergabung mendukung Bashar Al Assad merupakan sebuah peluang untuk dapar memerangi Amerika Serikat. Menurut Svensson (2013) Iran membantu Suriah pada aspek militer dengan mengirim pasukan militernya untuk ditugaskan menjaga Gudang senjata. Kemudian ada Rusia yang menjadi sekutu dari Suriah, yang mana Rusia ini telah lama menjalin hubungan bilateral dengan Suriah atas perdagangan senjata, sehingga Rusia merasa perlu untuk melindungi Suriah agar stabilitas negaranya terjaga. Yang keempat ada Amerika Serikat, mereka beranggapan bahwa sikap yang dilayangkan oleh Suriah dapat mengganggu dan dapat dikatakan sebagai ancaman bagi Amerika Serikat karena menghambat jalannya kepentingan ekonomi politiknya di Suriah. Menurut Sulaeman (2013) langkah yang kemudian diambil oleh Amerika Serikat yakni dengan mendukung Free Syrian Army sebagai bentuk upaya untuk menggulingkan rezim Assad. Yang kelima ada Turki yang berada di pihak kelompok oposisi karena Turki ingin melancarkan proyeknya dalam membangun pipa gas yang selama ini dihambat oleh Bashar Al Assad. Maka dari itu Turki dengan cara mengirimkan pelatih untuk melatih Free Syrian Army agar Presiden Bashar Al Assad jatuh dari kursi jabatannya. Yang keenam adalah Arab Saudi, menurut Karbesi (2016) yang mendukung kelompok oposisi, karena Arab Saudi menganggap bahwa konflik Suriah ini dapat menggeser Arab Saudi sebagai negara yang mendominasi di Kawasan Timur Tengah. Dan yang terakhir adalah kelompok oposisi atau pemberontak, mereka merupakan sekelompok golongan yang menentang terhadap pemerintahan Bashar Al Assad dan berusaha untuk menggulingkan rezim Assad. Menurut Suhartini (2022) kelompok oposisi ini didukung secara material dan bantuan lainnya dari berbagai negara yakni negara-negara yang memberikan bantuan kepada kelompok pemberontak ini termasuk Turki, Yordania, Arab Saudi, Qatar, Prancis, Jerman, Italia, Amerika Serikat, Inggris, dan Uni Emirat Arab.

Facebook Comments Box

Baca Lainnya

Kritik dalam Demokrasi: Antara Hak Politik dan Tuduhan Makar

7 April 2026 - 19:01 WIB

Kritik dalam Demokrasi: Antara Hak Politik dan Tuduhan Makar

Jangan Selalu Norma, Mari Pandang Coming Out LGBTQ+ Dari Kacamata Psikologi

1 Oktober 2025 - 20:55 WIB

Jangan Selalu Norma, Mari Pandang Coming Out LGBTQ+ Dari Kacamata Psikologi

Kisah Kelam Sejarah G30S PKI, Mahasiswa Harus Jadi Garda Terdepan Menjaga Ideologi Pancasila

1 Oktober 2025 - 12:35 WIB

Kisah Kelam Sejarah G30S PKI, Mahasiswa Harus Jadi Garda Terdepan Menjaga Ideologi Pancasila

Sajak Mahendra Utama, Untuk Gus Imin di Hari Lahirmu

24 September 2025 - 12:20 WIB

Sajak Mahendra Utama, Untuk Gus Imin di Hari Lahirmu

Sajak Mahendra Utama, Untuk Affan Kurniawan, Yang Terbaring di Aspal Jakarta

30 Agustus 2025 - 19:38 WIB

Sajak Mahendra Utama, Untuk Affan Kurniawan, Yang Terbaring di Aspal Jakarta
Trending di Kolom
error: