Kolom  

Puisi Mas Dewa Tentang Gerbang Terahir

Puisi Mas Dewa Tentang Gerbang Terakhir
Supaya nanti kata - kataku mampu nongkrong digubuk langit. Foto; Borobudur news

Oleh: Mas Dewa

Kuli Kata

Daun – daun terkantuk dalam malam buta
Meraun sunyi di atas batu penantian
Sebagai laknat suka
Terus diri ini di hujat mendung duka
Hingga rintik – rintik rindu berjatuhan
Menggenang dan telah menjadi muara tak bertepi
Lalu kepada siapa aku harus mangadu ?
Sedang kata – kataku terus bernafsu
Melalu lalang di belantara keserakahan

Ingin aku tuliskan seluruh isi jantung melati
Biar semerbak badan puisi ini
Dan digauli oleh banyak penikmat
Meski masih koyak dan lusuh
Penaku tetap gigih melukis sedih
Agar tak melulu di tertawai cakrawala
Agar tak sendu dihadapan penguasa
Sebab coretan ku akan terus menganga
Dan menelan cahya purnama
Setiap kedip kata ialah doa
Pada pengharapan samudra
Bertemakan tentang suka- duka
Sajak ku akan terus membahana

Gerbang Terakhir

Kepadamu aku menaruh belas

Supaya nanti kata – kataku mampu nongkrong digubuk langit

Karena cita – cita bukan milikku saja

Seluruh ras dalam darahku mengadu

Nasib, takdir, maupun kesungguhan

Nafas kupertaruhkan

Agar ketiganya mau berkompromi dengan imaji

Pun rupanya

Kerancuan batin membuatnya tumbang perlahan

Tergeletak bersama bintang – bintang

Aku sadar pada halnya kembang yang layu

Tertunduk, wajahku sayu

Meratap angan yang tak kesampaian

Mengabulkan doa malam ibu

Diri ini mati ditumbuk rindu

Seperti halnya ruang kosong – sendiri

Lamunanku redup sunyi

Tinggal duka melayat tangis dalam sanubari

Tinggalkan Balasan