Menu

Mode Gelap
Enam Pejabat Pemkab Probolinggo Dilantik, Bupati Haris Tekankan Integritas dan Kinerja DPRD Kota Probolinggo Sampaikan Rekomendasi LKPJ 2025, Soroti Dampak Nyata Pembangunan The Rise of Private Plane Flights: A Brand new Era In Air Travel Buying Gold Online within The USA: A Comprehensive Guide Mengolah Data Paito SGP untuk Menemukan Pola yang Lebih Konsisten Natural Hormone Replacement Therapy

Kolom

Sajak-Sajak Mas Dewa, “Aku Dan Puisi lama”

badge-check


					Tersirat bait-bait ini kala diriku menatap senja kala itu. (Foto; Istimewa) Perbesar

Tersirat bait-bait ini kala diriku menatap senja kala itu. (Foto; Istimewa)

Apapun itu

Angin menyapu bersih kenangan – kenangan
Dan aku masih tersipu mengingat tangan lembut yang pernah singgah dalam genggaman

Aku pernah bercerita tentang kehidupanku yang tak seberapa
Dan dengan senyum, kau memaknai tiap baris cerita yang kusampaikan
Lalu aku tak banyak lagi bercerita
Sebab waktu telah tertegun melihat garis manja disenyummu

Tidak ada maksud untuk mengakhiri segenap cerita indah bersamamu
Sampai sajak percintaan purna
Dalam tiap bait – bait puisi yang kurangkai seindah mungkin
Berusaha menandingi cantik wajahmu
Yang melekat dalam sanubari
Tapi itu sia – sia
Bait puisi ini hanyalah pelipur lara
Saat kusadari
Aku hanya seorang pencerita
Yang menceritakan kembali kejadian orang lain

Seperti tersentak dari mimpi indah
Semua khayal hanya berupa serpihan kenangan yang aku tulis tentang peluk hangat dirimu dan entah dengan siapa

Sebagaimana mestinya harus kusadari
Sebenar – benarnya diri ini
Ialah malam dengan rumput ilalang yang menjulang
Berusaha bermimpi dan membawamu pulang

Apapun itu
Jarak masih tetap menjadi penghalang
Antara rindu dan kekesalan
Antara cinta dan keadaan
Antara kasih dan entah dengan sayangmu ?
Yang masih terpatri padaku
Atau pada asiknya kemegahan hidupmu

Sial

Aku tak tau ini hari apa
Yang jelas aku sangat sial
Motorku digotong pihak berwajib
Memang kesalahanku
Tapi tak seharusnya

Aku berusaha tenang
Tapi angin sangat kencang
Memporak – porandakan keadaan
Yang memberikan jalan untuk kesialan

Disepanjang perjalanan
Aku tak berhenti berfikir
Tentang asmara yang acak – acakan
Tubuh yang berhenti berdzikir
Dan ramainya keadaan
Memenuhi dada yang sesak dengan penuh harapan

Sampai pada persimpangan jalan
Aku diduduk disamping trotoar
Sembari mengeluarkan sebatang sigaret
Membakarnya dan menghembuskan kepulan asap yang tercipta dari doa seorang petani tua dan bersamanya kusematkan matra atas kejadian hari ini semoga baik – baik saja dan untukmu aku akan terus memburu sampai hilang sesal dan sesak didada

Aku dan puisi lama

Diwaktu yang fana
Udara menguap kembali keharibaannya
Menyatu dengan tangis dan air mata

Ditengah perhelatan janji – janji orang – orang yang berkepentingan
Ada suara yang sedikit tak terdengar
Ia dengan sekuat tenaga mengucapkan tentang sebuah kebenaran
Tentang kehidupan pasca kepentingan – kepentingan itu selesai

Hari ini ada janji – janji lagi yang keluar dari pertapaannya lima tahun silam :

Tentang kehidupan dan pancasila
keamanan hidup dan Kesejahteraan berbangsa, bernegara
Tidak usah berat – berat memikirkan tentang sandang pangan
Semua akan aman sentosa
Tapi, itu semua jika saya terpilih

Omong kosong itu menggema ditiap – tiap telinga kaum miskin
Yang menahan lapar sejak kemarin
Rasanya tak ada tenaga lagi untuk membantah orasi tentang nasi yang basi
Biarkan ia berkoar
Tuhan maha tau
Mana yang serius merakyat dan mana yang hanya berkelakar

Hanya itu tenaga terakhir yang dimiliki kaum bawahan
Doa dan air mata

Mas Dewa
16 Juli 2023

Facebook Comments Box

Baca Lainnya

Kritik dalam Demokrasi: Antara Hak Politik dan Tuduhan Makar

7 April 2026 - 19:01 WIB

Kritik dalam Demokrasi: Antara Hak Politik dan Tuduhan Makar

Jangan Selalu Norma, Mari Pandang Coming Out LGBTQ+ Dari Kacamata Psikologi

1 Oktober 2025 - 20:55 WIB

Jangan Selalu Norma, Mari Pandang Coming Out LGBTQ+ Dari Kacamata Psikologi

Kisah Kelam Sejarah G30S PKI, Mahasiswa Harus Jadi Garda Terdepan Menjaga Ideologi Pancasila

1 Oktober 2025 - 12:35 WIB

Kisah Kelam Sejarah G30S PKI, Mahasiswa Harus Jadi Garda Terdepan Menjaga Ideologi Pancasila

Sajak Mahendra Utama, Untuk Gus Imin di Hari Lahirmu

24 September 2025 - 12:20 WIB

Sajak Mahendra Utama, Untuk Gus Imin di Hari Lahirmu

Sajak Mahendra Utama, Untuk Affan Kurniawan, Yang Terbaring di Aspal Jakarta

30 Agustus 2025 - 19:38 WIB

Sajak Mahendra Utama, Untuk Affan Kurniawan, Yang Terbaring di Aspal Jakarta
Trending di Kolom
error: